Dilema Berbatik

Anda suka batik? Saya suka sekali.

Akhir pekan lalu, pas jalan-jalan di sebuah mall di Jakarta, kebetulan ada pameran batik. Gebyar sekali. Saya sudah tahu batik di pameran itu pasti akan mahal, karena mall di situ memang tidak ada barang murah. Tapi karena penasaran sama corak dan warna-warninya, mendekatlah saya. Sebuah dress pendek paduan batik dengan kain warna hitam di bagian atas. Cantik. Simple. Selera saya lah pokoknya. Begitu lihat bandrolnya, saya menelan ludah. Di bandrolnya tertulis Rp 1,2 juta. Coba lihat baju lainnya, ternyata lebih mahal lagi. Balik kanan, langsung meninggalkan pameran.

GILA!

Baju yang sederhana aja segitu, apalagi yang batik-batik buat pesta dan kain yang lebih bagus. Entahlah… harganya menurut saya nggak masuk akal.

Suatu kali ada yang bilang kalau, sebisa mungkin jangan pakai batik print. Karena itu mematikan usaha batik. Dan sebagai bentuk penghargaan pada batik, sudah sepantasnya kita berusaha untuk membeli batik tulis. Ya setidaknya batik cap.

Pingin deh protes!

Begini, jangan salahkan pembeli kalau ada barang yang lebih murah. Kalau bandingannya beli batik Rp 100 ribu dengan Rp 1 juta. Saya tidak cukup kaya untuk beli sepotong baju batik yang harganya sama dengan biaya makan saya selama tiga minggu. Kemampuan saya belum sampai segitu. Apa dengan begitu saya tidak boleh memakai kain batik?

Bukannya sekarang ini sedang digalakkan mencintai batik? Lihat saja setiap Jumat. Banyak yang pakai baju batik. Kantor-kantor sekarang kan mewajibkan batik.Dan tidak disebut harus batik tulis, tapi batik. Mau print mau cap, tidak dipersoalkan.

Saya browsing-browsing, kenapa sih batik itu mahal. Karena memang dari sananya, batik itu untuk kalangan ningrat, kalangan kraton. Jadi ya bahan dan pembuatannya istimewa. Jelas di atas harga rata-rata baju rakyat biasa. Pengikut raja yang tinggal di luar kraton ini yang kemudian menyebarluaskan batik.

Prasangka buruk saya, batik yang dijual mahal-mahal itu memang bukan untuk orang kebanyakan macam saya. Itu hanya untuk kalangan tertentu yang mampu membelinya. Yang jual juga sudah tahulah, jualan baju atau kain batik dengan harga jutaan tentu bukan untuk pegawai yang gajinya masih tujuh digit.

Kalau harga batik semahal itu, pembatiknya pasti sejahtera. “Masih banyak pembatik yang miskin. Yang kaya kan pengusahanya. Juragannya. Pegawainya ya sama saja,” kata teman saya yang lain.Jadi batik mahal itu uangnya lari kemana saja? Entahlah. Barangkali ada yang bisa bantu saya menjawab ini.

Tapi tidak bisa dimungkiri, proses pembuatan batik tulis ini sangat panjang. Ada pakem-pakem yang tidak bisa dilanggar. Membutuhkan ketelatenan luar biasa. Semua dikerjakan manual. Jadi ya mahal. Sementara wajar adalah sebuah relativitas. Maka bisa berbeda-beda derajatnya pada setiap orang.

Nah, yang bikin sebel adalah ada orang-orang yang mengaitkan kepemilikan batik tulis dengan nasionalisme. Kalau beli batik tulis itu nasionalis. Bahwa “mahal” itu sebuah harga sebuah budaya yang menjadi kekayaan budaya kita. Kalau beli print itu anasionalis. Dituduh menghancurkan usaha batik.

Begini ya wahai pecinta budaya, kalau di negara ini UMR nya cukup untuk sandang, pangan, papan dan sehelai batik tulis. Bolehlah rumus itu dipakai. Kalau dipaksakan, kayanya bakal cuma sedikit orang yang bisa beli batik itu. Mungkin saya baru bisa beli batik tulis setelah nabung berbulan-bulan.

Saya suka motif batik, suka sekali. Tapi terus terang saya belum punya batik tulis. Pingin punya? Iya jelas. Mungkin menunggu harganya lebih masuk akal buat saya. Sementara ini, saya belum peduli dengan tulis atau tidak. Yang penting motif bagus, bahan nyaman, harga pas di kantong. Mau menyebut saya tidak menghargai budaya bangsa? Saya pasrah.

Urusan batik ini ko jadi dilematis ya? Saya sih berharap, batik tidak jadi barang mewah. Sebenarnya baju apapun, ada yang murah ada yang mahal. Tinggal punya uang berapa, ya belilah yang itu. Tapi urusan batik tidak sekedar baju. Di sana melekat budaya, warisan leluhur, makna, tradisi, bahkan nasionalisme.Semoga hal-hal itu tidak dipakai sebagai alat dagang, sehingga yang mahal dianggap lebih baik.

Semoga saja ada designer atau produsen batik yang berkenan membuat batik tulis tapi harganya tidak terlalu mahal. Tapi kayanya pesimis juga. Salah satu merk batik yang disokong Pak Presiden saja harganya buset deh, selangiiitttt!

Kalau sudah begini, ya maafkan saya kalau masih pakai batik print atau cap.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Mari Berdamai, Jakarta…

20120312-125143.jpg

Sumber foto: dreamstime.com

Selama 1,5 bulan di Jakarta tidak pernah seharipun saya bisa tidur sebelum pukul 1 dini hari. Pernah suatu malam, kelelahan membuat saya tertidur pada pukul 8 malam. Saya berharap terbangun pada hari berikutnya, tapi ternyata saya menikmati tidur nyenyak itu hanya satu jam. Artinya, saya begadangan lebih panjang dari biasanya. Tidur empat jam saja sudah jadi berkah.

Terus terang saja, saya kelelahan.

Saya harus akui, kondisi sekarang sudah jauh membaik. Seminggu pertama di Jakarta, setiap malam saya menangis.

Anda semua boleh menertawakan saya. Anda juga boleh menyebut saya cengeng. Begitulah keadaannya.

Saya tidak pernah membayangkan begitu sulit berada di Jakarta. Ini baru Jakarta, bagaimana jika New York. Atau, Paris! Kota yang ingin saya singgahi sebelum berusia 30 tahun.

Pembelaan saya, mental saya mental kampung. Begitu di kota besar, langsung gagap. Saya sama sekali tidak bisa mengikuti irama kebisingan di jalanan, yang bercampur dengan klakson tak berjeda. Selingannya suara orang berteriak, entah meributkan apa.

Saya ingat, ketika mempersiapkan kepindahan ke Jakarta dari Sukabumi. Pagi itu saya naik kereta api Sukabumi-Bogor. Berangkat jam 5 pagi, sampai di Bogor jam 7 pagi. Disambung dengan kereta Bogor-Jakarta. Suasananya penuh sesak. Syukurlah saya di gerbong khusus wanita, setidaknya saya merasa lebih aman meski tidak lebih nyaman.

Sepanjang perjalanan saya berdiri karena sudah tidak ada tempat duduk yang tersisa. Kebetulan saya berdiri di dekat pintu. Ketika seorang wanita hendak turun, ia menghardik saya karena menghalangi jalannya. “Minggir kenapa sih, mbak,” katanya ketus. Kalau ada posisi berdiri yang lebih baik, saya pasti sudah melakukannya sejak 1,5 jam yang lalu. Dia sangat terburu-buru. Sampai-sampai tak seorang pun diijinkan menghalangi jalannya meski hanya sesaat.

Mata saya panas, lalu meleleh. Kalau dia terlambat, atau mengalami pagi yang buruk, jelas itu bukan kesalahan saya. Mungkin dia bangun kesiangan, tak sempat dandan layak, atau tak sempat berpamitan pada anak dan suaminya. Tapi yang jelas itu bukan kesalahan saya. Tapi pagi itu, dia memilih menghardik saya.

“Selamat datang di ibukota,” bisik batin saya. Hal-hal macam itulah yang akan sering saya temui. Barangkali itu bisa menjelaskan betapa suara klakson di Jakarta tak pernah terdengar ramah.

Di kos saya di Jakarta, semua seperti punya ingatan yang pendek. Hari ini kenalan, besok sudah lupa. Percaya tidak percaya, saya baru tahu nama penghuni kosan setelah satu bulan. Ketika kami sering dipertemukan di meja makan, saat sahur. Begitu sibuk dan padatnya orang Jakarta, sampai merasa tak perlu mengingat nama seseorang yang tidur di balik tembok kamarnya.

Saya jadi membandingkan dengan kos-kosan saya terdahulu. Di Sukabumi, aaahhh saya seperti punya keluarga besar. Jangankan nama, kami ingat kebiasaan mereka setiap pagi. Ada yang keluar kamar dengan mendekap boneka untuk pesen sarapan. Ada yang pagi buta sudah bersepeda. Ada yang selalu terlambat ke kantor. Ada yang selalu berisik karena gagal mengeluarkan mobil dari parkiran. And guess what, saya hanya perlu satu minggu untuk merasa rumah itu menjadi milik kami semua. Bahwa seseorang yang tidur di balik tembokmu adalah saudara yang tidak bisa kau abaikan begitu saja. Sampai sekarang mereka masih sering berkirim kabar, meskipun mengabarkan hal kecil. Tapi itu membahagiakan. “Hei Na, aku pakai tas anyaman darimu,” tulis Sinta di pesan pendeknya. Tiba-tiba saya bahagia.

Kos di Bandung bukan kos yang besar. Hanya empat orang saja, dan keluarga pemilik kos tinggal di lantai berbeda dengan kami. Semuanya orang sibuk. Nyaris kami bertatap muka hanya pada akhir pekan. Tapi kami selalu mengobrol panjang. Saya masih ingat betapa ibu kos saya menangis tersedu-sedu saat saya pindah. Seperti hendak ditinggal anaknya. Kehangatan yang diberikan membuat saya betah tinggal di sana hampir tiga tahun lamanya.

Kos di Surabaya adalah kenangan indah lainnya. Kami seperti keluarga yang terus melahirkan generasi berikutnya. Anda tahu penangkaran hewan? Biasanya tempatnya diupayakan semirip mungkin dengan habitatnya sehingga si hewan bisa nyaman dan berkembang biak di sana. Itu analogi terbaik yang bisa saya temukan. Bukan analogi yang baik memang, tapi barangkali begitu. Saya seperti mendapatkan habitat yang cocok sehingga saya bisa berkembang dengan baik. Bukan berkembang biak yaaaa… tapi berkembang secara kepribadian dan kemampuan.

Dalam hal pekerjaan, saya pun sangat cemas menghadapi Jakarta. Saya seperti dihadapkan pada medan pertempuran yang seseungguhnya. Menghadapi rimba belantara yang luar biasa mengerikan. Saya tidak siap.

Tapi yang terjadi tidak sepenuhnya benar. Karena ternyata saya menemukan orang-orang yang berpikir mundur, meski tinggal di kota yang paling maju di Indonesia. Dan itu ternyata menyebalkan juga. Seperti misalnya, “Oh kirain jadi wartawan daerah itu nganggur. Kan di daerah nggak ada berita,” katanya enteng.

Dan begitulah, sebagian orang menganggap Indonesia itu Jakarta. Apa yang terjadi di luar Jakarta hanyalah kisah pendamping untuk memenuhi space di koran. Bukan berita utama yang penting. Padahal, kau tidak akan bisa mengeja INDONESIA hanya dengan Jakarta.

Pendek kata, banyak hal yang saya tak sepakat dengan Jakarta.

Tapi saya dipaksa takluk dengan Jakarta. Banyak hal ditawarkan Jakarta. Perpustakaan yang nyaman, pusat kebudayaan dari berbagai negara yang tidak ditemukan di semua kota di Indonesia, atau setidaknya toko yang buka 24 jam.

Saya tidak bisa mengendalikan diri saya sendiri menghadapi Jakarta. Saya terus-menerus menyalahkan perusahaan yang memindahkan saya ke kota ini. Hanya enam bulan dari keputusan mereka memindahkan saya dari Bandung ke Sukabumi. Sebagian orang menganggap kepindahan saya ke Jakarta adalah sebuah promosi. Bagi saya, ini hanya cerminan keputusan yang gamang. Yang berubah hanya dalam waktu kurang dari enam bulan.

Kenapa harus saya harus mengalami dua kali rotasi dalam satu tahun? Oke, teman saya pun ada yang mengalami rotasi dua kali dalam setahun, tapi dipindah ke Bandung. Itu artinya pulang! Belum lagi masih banyak teman-teman yang belum pernah mencicipi daerah. Kenapa harus saya? Tak henti-hentinya saya meratapi itu semua.

Malam ini, saya putuskan untuk berhenti bertanya. Saya mengulurkan tangan saya untuk bersalaman. Saya membuka lengan untuk berpelukan. Saya hapus kerutan di kening, saya tukar dengan sebuah senyuman. Atau bahkan tawa.

Mari kita berdamai, Jakarta…

Saya ingin mengenalmu lebih jauh. Sisi terbaik juga terburukmu. Tanpa ada kutukan yang keluar dari mulutku. Saya ingin kita berteman. Barangkali kita tak bisa langsung menjadi sahabat, tapi setidaknya saya tak ingin bermusuhan denganmu.

Saya tidak ingin buru-buru menyumbangkan warna lain untuk mewarnaimu. Kau sudah punya cukup banyak warna, kukira. Saya ingin menikmatimu dari hal-hal yang paling sederhana. Misalnya saja, tidur nyenyak.

Saya tidak akan menangis lagi ketika dibentak orang di kereta. Saya tidak akanbersedih, jika senyuman saya tak berbalas seperti yang saya harapkan. Saya tak akan menggerutu jika kendaraan di belakang terus-menerus membunyikan klaksonnya. Saya tidak akan membenci mereka yang menyepelakan saya.

Saya tidak ingin menumpuk beban. Saya ingin tidur nyenyak.

Saya tidak lagi menyesali perjalanan ini. Hal terbaik dan terburuk yang pernah terjadi pada saya kemarin akan membentuk diri saya hari ini dan besok. Ini perjalanan yang harus saya lalui. Bagian dari meniti jagad.

Mari bersalaman, kita berdamai.

Ah, saya mulai mengantuk.

Selamat malam Jakarta, semmoga mimpi indah….

Mari Bergandengan Tangan (Lagi)

20120309-123720.jpg
Sumber foto: pulsarmedia.eu

Dear my ladies…

Sudah berapa lama kita tak saling jumpa? Melewatkan hari pernikahan kalian, melewatkan hari kelahiran putra-putri kalian, atau bahkan tidak lagi mengucapkan selamat ulang tahun… seringkali membuatku merasa menjadi sahabat yang buruk. Tapi aku selalu menghibur diri dengan, “Kalian pasti mengerti”. Oh… sahabat macam apa aku ini. Maafkan aku…

Suatu hari, sekitar Februari lalu, aku SMS Puput, “Aku mau lihat perutmu yang ada dedeknya! Aku mau liat kamu kalo hamil kaya apa.” Kira-kira begitu bunyi SMS ku untuk sahabat kita yang saat itu sedang hamil memasuki bulan ke-8. Kami masih sering berkirim kabar meskipun hanya lewat SMS, Facebook atau Twitter.

Saya tahu, ia mengalami masa kehamilan yang berat. Makanya dia memutuskan pulang ke Balikpapan begitu masuk bulan ke-8, maklum suaminya pun berada di Pontianak. Melahirkan di rumah orang tua pilihan yang terbaik saat itu. Lalu dia mengirim sebuah foto. Puput yang selalu menggebu-gebu untuk semua hal yang dikerjakan, mengirimi sebuah foto yang membuat saya terkagum-kagum. Puput yang memang dari dulu kurus, ternyata tidak juga jadi gemuk. Tapi perutnya sungguh mengagumkan. Perutnya membesar, dan di dalamnya ada seorang bayi perempuan yang kini dinamai Malika.

Langsung aku menelponnya seketika itu. Obrolan kami begitu membahagiakan. Maklum sudah cukup lama tidak saling telepon. Lalu dia bilang akan melahirkan melalui operasi cesar. “Kenapa?,” tanyaku lancang.

“Na, bulan lalu aku kena musibah. Waktu usia kehamilanku tujuh bulan, aku divonis terkena tumor otak. Ukurannya sudah lumayan besar, makanya aku nggak bisa melahirkan normal karena akan memicu saraf di kepala. Operasi pun harus dilakukan cepat. Karena aku harus bius total tapi jangan sampai biusnya sampai kena dedeknya. Semua harus serba cepat,” lancar saja dia menceritakan itu. Aku membisu.

Mendengar tumor otak saja sudah menghentikan nafasku. Apalagi ada bayi yang juga harus dilahirkan. Begitulah, pertama kali aku tahu apa yang terjadi pada Puput. Puput kita. Seketika itu pula aku ingin membagi cerita ini. Supaya kita bisa menggotongnya bersama-sama. Supaya sakitnya bisa kita bagi. Atau setidaknya supaya kita bisa menemani. Tapi semua niat saya itu terhenti karena Puput bilang, “Jangan bilang siapa-siapa dulu”.

Sekuat apapun saya ingin bercerita, saya mencoba membayangkan menjadi Puput. Tentu kabar ini bukan kabar yang membahagiakan. Dan membaginya dengan orang lain membutuhkan kesiapan dan keberanian yang cukup. Untuk beberapa bulan saya hanya menyimpan cerita ini sendiri. Kami kembali sering berkomunikasi.

Dokter menyarankan, setelah Malika lahir Puput segera menjalani operasi pengangkatan tumor. Kalau tidak, tumor itu akan semakin membesar dan mendesak jaringan di kepala. Sampai Malika lahir, kondisi Puput relatif stabil. Tapi memang sakit kepala kerap datang. Seperti suatu pagi, saya menerima SMS dari Puput. “Aku terkena serangan sakit kepala luar biasa”.

Puput belum berani operasi. Membayangkan kepala dibedah untuk mengambil tumornya, dia belum berani. Belum lagi masa recovery pasca operasi tumor otak yang membutuhkan waktu lama. Ia tidak bisa membayangkan tidak menyusui Malika, tidak menggendongnya. Baginya, menyusui Malika adalah surga dunia.

Beberapa cara pengobatan alternatif dicoba. Dia mulai minum air rebusan daun sirsak. Tapi justru serangan hebat itu datang lagi. “Sakitnya bukan main. Rasanya mati itu pilihan yang lebih baik. Aku sampe sudah minta maaf ke mama papa, nitip Malika,” katanya. Hatiku ikut hancur.

Tapi dia tidak putus asa. Pengobatan alternatif yang disarankan teman di Pemalang, Jawa Tengah pun didatangi. Tapi rupanya hasilnya tidak memuaskan. Tumor itu tidak kunjung mengecil. Besarnya sekarang kira-kira sebesar buah apel. Seperempat kepalanya. Letaknya di belakang mata kanan.

Suatu ketika Aida, cerita kalau dia mau ke Balikpapan untuk sebuah keperluan dan akan mampir jenguk Malika. Aku langsung nelpon Aida. Melanggar janjiku dan menceritakan semuanya ke Aida. Aku nitip mata dan telinga saat Aida mengunjungi Puput. Rupanya ketika Ai ke sana, Puput menceritakan semuanya. Jadilah setelah itu aku dan Aida menyimpan cerita ini.

Kami sangat ingin menceritakan ini kepada kalian semua. Tapi lagi-lagi kami mempertimbangkan kondisi Puput. Sejak saat itu, kami selalu bertukar informasi kalau ada perkembangan atau kabar dari Puput. Aku sendiri merencakan untuk mengambil cuti dan bisa pergi ke Balikpapan.

Belum sempat aku cuti, aku sudah dipindah ke Jakarta. Sampai suatu hari, 20 Juli lalu, pagi-pagi dia mengirim SMS. “Na, aku masuk RS Restu Ibu Selasa malam kemarin. Kena serangan sakit kepala banget aku ga tahan rasanya pingin dibius aja. Tapi alhamdulillah udah berkurang. Aku dan keluarga mutusin operasi Na. Dokter bilang Cuma Allah yang tau kenapa aku masih hidup dengan tumor otak sebesar ini. Aku nyimpen bom waktu katanya 😦 Insya Allah operasi minggu depan di RS Siloam Tangerang. Doain aku ya Na. Mauku sih oke lah operasi, tapi habis lebaran. Tapi kasihan keluargaku sudah khawatir banget. Aku takut Na 😦 tapi harus semangat yah.. InsyaAllah sembuh, Amin,”

Aku cuma bisa nangis. Kalau bisa terbang ke Balikpapan saat itu rasanya aku ingin ke sana. Memastikan dia bisa melewati semua ini. Di sisi lain, ini melegakan, karena operasi di Tangerang maka aku bisa menemuinya. Selasa (27/7) lalu, Puput sampai di Jakarta untuk memulai serangkaian pemeriksaan dan pengobatannya di RS Siloam Tangerang.

Sebelum diopname, dia menginap semalam di Hotel Milenium Jakarta. Tanpa pikir panjang, kami bertemu di sana. Puput berdua dengan suaminya, Mas Dhika. Begitu melihat Puput yang kurus itu bersandar di sofa, aku tidak kuasa ingin menangis. Tapi senyumnya tetap ceria. Semangatnya masih menyala. Maka air mataku kutunda sementara.

Kami ngobrol panjang lebar. Tidak melulu membicarakan tumornya. Kami bercanda. Tertawa lepas. “Kamu ko masih bisa tertawa gini?” Puput malah ketawa. Puput kita itu tetap orang yang kuat. Seperti dulu. Sekuat dia menghadapi dua kali kekalahannya di pemilihan Kahima. Oh tidak! Itu sungguh tidak ada apa-apanya. DIA SANGAT KUAT!

Selain Allah yang Maha Segalanya, aku yakin suaminya yang setia dan buah hatinya adalah sumber kekuatannya. Bahan bakar yang membuatnya tetap bisa menjalani hidup. Menempuh jarak yang jauh untuk mengusahakan kesembuhan. Sekarang, Puput sedang menunggu hasi l pemeriksaan dan penjadwalan operasi di RS Siloam Tangerang.

Aku minta maaf karena baru bisa cerita sekarang. Semata-mata menjaga pesan Puput. Tapi sekarang sepertinya Puput sudah lebih siap menceritakan keadaannya pada orang lain. Dan yang terpenting, dia sedang membutuhkan banyak doa dari kita semua, sahabat-sahabatnya.

Maka, mari meluangkan doa-doa kita untuk kesembuhan Puput. Di tengah kesibukan, waktu dan posisi kita yang sudah berjauh-jauhan, sangat dimaklumi kalau secara fisik tidak bisa menemani Puput. Tapi doa kita bisa menerobos semua keterbatasan itu.

Aku paham benar, aku tidak bisa menebus ketidakhadiranku di hari pernikahannya, di hari ulang tahunnya, atau di hari kelahiran anaknya. Tapi semoga, aku dan kita semua, bisa menyuntikkan energi untuk Puput. Melalui doa-doa kita. Sebenarnya sungguh tidak enak jika silaturahmi ini tersambung kembali karena kabar yang kurang menggembirakan. Tapi barangkali inilah hikmahnya.Mari kita sama-sama bahu-membahu memberikan apapun yang bisa kita lakukan untuk Puput.

Peluk sayang penuh rindu,

Nana

*) Surat ini saya kirimkan untuk sahabat-sahabat Puput…. Sahabat saya….

Kini, dia sedang berjang sekuat tenaganya untuk menaklukkan tumor yang baru saja dibuang dari kepalanya. Kami tak henti-hentinya berdoa… Dan betapa Tuhan menyayangi kita semua…

dike-JAKARTA-kan

20120309-122520.jpg
Sumber foto: Jakarta City Light

J A K A R T A
Saya sering prihatin dengan status facebook atau twitter teman-teman yang tinggal di Jakarta. Berangkat kerja mereka mengeluhkan macet. Pulang kerja mereka pun mengeluhkan macet.
Kala itu saya merasa bersyukur karena tidak berada di sana. Saya begitu berbahagia bukan bagian dari kota yang bersimbah kutukan dari penghuninya. Saya pun tak bercita-cita tinggal di Ibu Kota yang katanya jauh lebih kejam dari ibu tiri Cinderella.
Sampai suatu sore, teman-teman saya memberi selamat pada saya atas kepindahan saya ke Jakarta. “Apa? Yang bener aja! Baru juga 6 bulan di Sukabumi, mana mungkin dipindah lagi,” begitu jawa saya kepada semua yang menghubungi saya. Tapi lama-kelamaan berita itu terlalu akurat jika hanya sebatas gosip. Biasanya menjelang rotasi memang didahului dengan gosip yang semerbak seperti sedap malam.
Saya beranikan diri menelepon kantor. Melalui operator saya tanya, apakah ada surat untuk saya dari Bandung (kantpr pusat kantor saya). “Ada nih, mungkin besok sampainya,” kata kang Jajang yang suaranya sudah saya kenal akrab.
“Kang tolong bacain,” kata saya cemas.
“Iya ini mah surat tugas. Katanya dipindah ke Jakarta,” kata Kang Jajang.
Jeng jeng! Persendian saya lemas.
“Iraha (kapan dalam Bahasa Sunda) mulaina?” tanya saya tanpa daya.
“Per 1 Juli,” sambung dia.
Itu berarti lusa, gumam saya. Saya memandang teman wartawan saya yang lagi sama-sama nongkrong di warnet Sukabumi.
Saya belum siap meninggalkan kenyamanan saya di Sukabumi. Liputan yang mengasyikkan, teman-teman yang menyenangkan, dan kos yang sangat nyaman.
Segera pulang ke kos, memandangi semua isinya. Saya bingung berbenah dari mana. Saya tak kunjung mengemasi barang-barang. Tidak hari ini, kata saya dalam hati.
Tapi saya tak kuasa menunda perintah atasan. Sebagai pion, diletakkan di mana saja tak bisa saya menolak. Sejak awal, yang saya dengar, haram menolak tugas. Akhirnya tanggal 1 Juli saya pun menginjakkan kaki di Jakarta untuk menyiapkan semuanya. Baru tanggal 4 Juli, saya resmi pindah ke Jakarta.
Maka, di sini lah saya. JAKARTA.
Pusat dari negara bernama Indonesia.
Tapi, apakah saya merasakan Indonesia di sini? Hemmhhh… kita lihat nanti…

Ke(tidak)adilan Bagi Mereka

Saya menyukai Sukabumi. Sangat!

Berpuluh-puluh kilometer perjalanan yang ditempuh untuk satu liputan, tak pernah ada pemandangan yang mengecewakan. Oke, memang ada macet. Utamanya di depan pasar-pasar tradisional. Tapi di balik pasar ruwet itu ada gunung yang terbaring begitu indahnya. Suatu saat saya naik ke puncak gunung untuk melihat kebun tomat. Awannya luar biasa indah… Perpaduan warna biru dan putih yang menawan… Sekarang saya tahu kenapa ada warna biru langit. Birunya aduhai!

Selain pemandangannya, saya merasa beruntung berada di Sukabumi. Saya bertemu orang-orang yang sangat baik. Kawan-kawan wartawan di sini baik-baik. Umumnya laki-laki. Seringnya saya perempuan sendiri waktu liputan. Sebagai orang baru, saya merasa diterima dengan baik. Mereka tak pernah segan memberitahu tentang banyak hal. Seringkali – kalau tak mau dibilang selalu – saya dibonceng saat liputan. Pertama karena belum hapal jalan, kedua karena mereka iba pada saya J

Di sepanjang perjalanan itu kami bertukar kisah. Bagaimana pergulatan mereka yang mayoritas berstatus kontributor televisi. Di setiap peliputan, wartawan televisi selalu mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Rupanya banyak yang dari mereka yang ingin masuk televisi. Makanya ketika kamera dikeluarkan, seperti mantra yang menyihir kaum awam. Gagah, begitu mungkin penilaian mereka.

Saya setuju kalau mereka dinilai gagah. Bukan hanya karena memanggul kamera. Tetapijuga etos kerja yang luar biasa. Bayangkan, jam berapapun ada peristiwa mereka siap siaga. Tak peduli anaknya sedang merindu karena bapaknya jarang di rumah. Tak peduli istri minta antar ke pasar. Bahkan tak peduli dengan perut yang sedari siang belum diisi nasi. Tak peduli terikany matahari, ataupun kelamnya malam. Demi gambar berkualitas wahid, mereka rela menanggalkan berbagai keinginan mereka.

Sebenarnya kebutuhan saya sebagai jurnalis media cetak, tidak sama percis dengan mereka, tapi dengan semangat mengenali wilayah lebih baik, saya sering ikut mereka. Toh saya di Sukabumi tak ada kegiatan lain.

Suatu kali akang yang membonceng saya bercerita panjang lebar tentang susahnya jadi kontributor televisi. Bagaimana hari-harinya dilewati dengan membatin berapa berita yang sudah ditayangkan. Dan mengeluhkan kenapa honor tak cair tepat waktu. Saya sempat geleng-geleng, sebab media yang mempekerjakannya adalah media televisi nasional yang popularitasnya tidak diragukan lagi.

“Kamu tahu gaji si X (dia menyebut seorang anchor), gajianya bisa puluhan juta,” katanya.

Ada ketidakadilan yang sudah membudaya. Kontributor daerah itu kerjanya luar biasa, tapi dia hanya dihargai setiap berita yan ditayangkan. Tak ada asuransi jiwa yang memadai. Tak ada tunjangan untuk keluarga. Tak ada bonus. Tak ada tunjangan transportasi atau uang makan.

Kalau berita mereka dianggap bagus, stasiun televisi itu akan mendatangkan tim dari Jakarta. Mereka membuat peliputan yang lebih komplit. Penilaian saya, kontributorlah yang punya peran penting!

Tapi apa balasan stasiun televisi itu? Bahkan status karyawan pun tak diberikan. Ironis!

Ketika mereka meliput buruh yang berteriak meminta tunjangan, mereka pun tak pernah berhak atas tunjangan.

Stasiun televisi juga jarang yang memberikan pelatihan atau semacam pendidikan bagi kontributor mereka. Mereka belajar mengoperasikan kamera sendiri. Belajar membuat naskah sendiri. Semuanya berguru pada pengalaman.

Tapi banyak juga kontributor yang sudah mapan. Sehingga bisa mengambil stringer. Juga diupah sesuai dengan berita yang ditayangkan, tentu saja atas nama kontributornya.

“Persis seperti jualan berita,” ujar kawan saya tadi.

Sedih rasanya mendengar itu. Keletihan kami sama. Risiko yang kami hadapi sama besarnya. Tapi setidaknya saya tak pernah memusingkan berapa berita yang dimuat. Setiap bulan saya menerima gaji dan tunjangan yang tidak bisa saya bilang kecil, meskipun bagi orang lain barangkali tak bisa disebut besar juga. Tapi ada kepastian. Saya punya hak dan kewajiban yang jelas.

Bahkan ada stringer televisi lokal yang belum dibayar meski sudah liputan beberapa bulan. Alasannya, karena biro yang baru saja dibuka di Sukabumi belum beroperasi. Sedih L

Kondisi seperti itu, berdampak pada banyak hal. Misalnya, ketika bertemu dengan nara sumber yang kemudian memberi “uang saku”. Sungguh sebuah rezeki yang sulit ditolak. Apalagi jika bulan itu berita sedang sepi.

Saya tidak menyalahkan mereka. Saya tidak mau memaksakan kondisi ideal atas nama kode etik. Mereka punya tuntutan hidup yang tak pernah bisa dicegah. Saya bisa menolak karena saya sudah merasa cukup dengan gaji saya yang tidak seberapa itu.

Kalau mau idealis, perusahaan punya tanggung jawab untuk memperbaiki sistemnya. Jangan Cuma mentereng di Jakarta, sementara di daerah mereka membiarkan kontributornya sebagai anak tiri. Mau hasil kerjanya, tapi tak mau bertanggung jawab.

Saya bersyukur, meskipun surat kabar tempat saya bekerja bukan media nasional. “Hanya” skala Jawa Barat, tapi mereka tidak membiarkan kami terkatung-katung. Itu pun kami masih sering mengeluh. Kurang ini, kurang itu. Tak pernah ada kata puas. Makanya masih banyak wartawan yang sudah digaji layak pun masih saja terima uang dari sana-sini. Membuat proyek sampingan sampai sampai menjual halaman. Menyedihkan!

Di Sukabumi saya belajar banyak. Tentang kerja keras dan syukur….

Sungguh tak pantas saya bermalas-malasan… atau mengeluhkan tentang banyak hal… Hidup tidak sekadar untuk diratapi…

Bergerak dan berbuat…

Untuk kawan-kawan kotributor televisi di manapun kalian berada…

Rasa hormat setinggi-tingginya atas kesanggupan menapaki hidup seperti itu… Hidup penuh dengan ketidakpastian, benarlah adanya. Namun tak pernah ada kata menyerah… Semangat!

Bahagia

Hari ini. Aku Bahagia.
Berjumpa dengan mereka. Menatap wajahnya. Melihat matanya. Berada di tengah-tengah mereka. Memandangi setiap sudut ruangannya. Meneguk air dari cangkirnya.

Kini aku tahu, dari mana kebaikan itu berasal. Dari mana kesahajaan itu diajarkan. Dari mana perjuangan itu bermula. Dari mana keberhasilan itu diupayakan. Dari mana segala hal luar biasa itu dicontohkan.

Aku bahagia. Berada di sana.

Jika setelah ini mereka akan lupa kehadiranku hari ini, tak apa. Atau mungkin, jika tangan terbuka itu perlahan menciut karena pada satnya mereka tahu aku tak seperti yang mereka mau, pun tak apa.

Aku bahagia. Pernah berada di sana.

Aku tak akan melupakan hari ini. Aku bahagia.

Tuhan, terimakasih…

Maafkan Saya (Sesat)…

Lelaki berkaos biru bercelana kain hitam itu menghampiri kami, beberapa

wartawan yang menunggunya di Masjid Bilal, Kota Sukabumi. Masjid itu

terletak sekitar 10 meter dari kediamannya. Di dekat masjid itu ada

semacam sekretariat yang isinya ada televisi, seperangkat meja kursi dan

buku-buku yang tersusun rapi di rak.

Senyum ramahnya mendatangi kami sejurus dengan langkahnya yang semakin

mendekat. Ia ulurkan tangannya bersalaman. Ia memperkenalkan diri

sebagai Mubaliq Ahmadiyah untuk wilayah Sukabumi dan Cianjur. Namanya

Dili Sadeli Fathol Ahmad.

Kami mulai berbincang. Dia mulai mengungkapkan sikapnya terkait Tragedi

Cikeusit yang menghilangkan nyawa 4 orang jamaah Ahmadiyah. Singkatnya,

tak akan ada penggalangan massa. Soal pengamanan, ia menyerahkan kepada

aparat kepolisian.

Ah.. bagaimana mungkin dia masih percaya dengan aparat kepolisian.

Sementara dari yang sudah-sudah, tidak banyak yang bisa dicegah. Tapi

kan polisi di sana dan di sini beda. Barangkali di daerah lain polisi

tak bisa lagi dipercaya, tapi di Kota Sukabumi tidak begitu. Polisi

masih menjadi tumpuan.

Di tengah-tengah perbincangan kami, mata saya terjebak pada tulisan yang

tertera di bagian belakang kaos yang dikenakan Dili.

CINTA UNTUK SEMUA ORANG
TIDAK ADA KEBENCIAN BAGI SIAPAPUN

Sadarkah dia dengan tulisan yang ia kenakan?
sementara faktanya, baru dua hari sebelumnya saudara yang memeliki

keyakinan sama dengannya diberangus massa. Empat orang kehilangan

nyawanya demi sesuatu yang mereka yakini. Keyakinan yang dianggap

melenceng oleh mereka yang menamakan dirinya “mainstream”.

Jika aku menjadi Dili, saya akan tanggalkan kaos itu. Tak akan pernah

aku pakai lagi selama kebencian itu masih dipupuk bahkan dilembagakan.

Hati saya masih perih. Tak sudi aku mengagung-agungkan cinta jika yang

aku tuai adalah kebencian dan kemarahan.

“Saya menghormati pendapat orang lain. Siapapun boleh berpendapat di

negara ini. Tapi persoalan keyakinan adalah domain Tuhan. Tidak ada yang

bisa mencampuri keyakinan seseorang,” katanya menanggapipernyataan

pemuka salah satu organisasi agama yang menginginkan Ahmadiyah menjadi

agama baru dan melepas atribut ke-Islam-an.

“Kami shalat lima waktu, syahadat kami sama, kiblat kami sama, kitab

suci pun sama. Saya ini Islam. Apakah saya harus mengingkari keyakinan

saya sebagai orang Islam?”

Saya tercekat. Saya tidak bisa menjawab apapun meskipun saya ingin

bilang “Anda benar”. Saya menunduk. Saya merasa dia lebih Islam dari

saya. Tapi mereka yang harus dikejar dan dijadikan sasaran amuk massa.

Seseorang yang belakangan saya tahu berasal dari kepolisian menghentikan

pembicaraan kami dengan Deli. Seorang bapak-bapak, usianya lebih dari 50

tahun. Janggutnya putih. Ia mengenakan kopyah putih, sehingga tak tampak

apakah rambutnya pun berwarna putih atau tidak. Ia meyebutkan nama, tapi

saya hanya mendengarnya samar. Ia mengaku asli Padang.

Gurauannya tentang jenggot mengantarkan kami masuk pada pembicaraan yang

lebih serius. “Saya ini dulu ikut jemaah tablig. Saya juga pernah ikut

berbagai organisasi, mulai dari Persatuan Islam dan Muhamadiyah. Tapi

kemudian daya berhenti di Ahmadiyah. Di sini saya menemukan kekhusyukan

menjalankan syariat Islam,” kata bapak itu yang mengaku bergabung dengan

Ahmadiyah sepuluh tahun silam.

“Selama ini kami sudah banyak difitnah. Kami dibilang mengakui nabi lain

setelah Muhamad. Padahal tidak pernah sekalipun kami menyebut Mirza

Ghulam Ahmad sebagai nabi. Kami disangka naik haji ke India. Kiblat kami

katanya berbeda. Padahal tidak begitu. Sebelum masuk Ahmadiyah saya

berdebat dulu. Saya tidak bodoh sehingga mau masuk begitu saja. Fiqih

saya kuat, sejak kecil saya sekolah agama. Kalau syahadatnya lain dengan

Islam, saya pasti akan keluar. Saya ceraikan istri saya. Atau

syahadatnya ditambahai embel-embel lain, saya tidak akan mau. Kami ini

Islam,” tuturnya.

Ia lalu bercerita panjang lebar tentang Ahmadiyah. Pendengaran saya

mengabur. Saya malah teringat suatu ketika di kantor Bandung. Seorang

Asisten Redaktur yang kubikelnya di sebelah saya mengatakan, “Kalau

Ahmadiyah itu hajinya ke India,” katanya.

Gara-gara kesalahan itu orang Ahmadiyah tidak bisa naik haji. Menurut

cerita baoak itu tadi, ada seorang Ahmadiyah Sukabumi ditolak naik haji

sampai tiga kali karena ia diketahui seorang Ahmadi. Entah bagaimana

ceritanya akhirnya dia sampai ke tanah suci.

Setelah semua informasi yang kami butuhkan telah kami catat, kami pamit.

Kami bersalaman dan bertukar senyum hangat. Ketika ban sepeda motor syaa

menggelinding menjauhi masjid itu, ada sesuatu yang ingin saya pendam.

Permintaan maaf. Entah… tapi saya ingin meminta maaf pada mereka.

Mereka yang harus menanggung akibat atas kepicikan ini. Kepicikan

orang-orang yang tidak bisa beragama dalam keheningan.

Liputan saya selanjutnya mengantarkan saya ke RS SYamsudin SH, RS milik

Pemerintah Kota Sukabumi untuk bertemu dengan seorang pasien. Sikap

manajemen rumah sakit yang berusaha menghalang-halangi kami mengantarkan

saya dan dua wartawan lain bertemu dengan petingging Komisi III DPRD

Kota Sukabumi, saya tak ingat namanya karena itu pertemuan pertama kami.

Tapi teman-teman memanggilnya Abah. Atas bantuannya kami diperkenankan

menemui pasien yang kami tuju.

Di sela-sela pertemuan itu, Abah berceloteh tentang Ahmadiyah. “Saya

sudah tegaskan, tidak boleh ada penganut Mirza Ghulam Ahmad di Kota

Sukabumi. Ahmadiyah harus dibubarkan,” kata anggota dewan yang terhormat

itu. Saya tak tahu ia dari partai apa. Saya kaget.

Ucapannya membuat saya tak ingin berbincang apapun tentangnya. “Ini

wakil rakyat kita. Tidak salah kalau rakyatnya beringas,” gumam saya.

Tidak cukup sampai di situ. Saat berada di ruangan pegawai di salah satu

bangsal di RS itu, ia berkata “Siapa yang ikut Mirza Ghulam Ahmad, biar

saya pecat dari sini,” katanya. Mungkin dia bercanda, tapi sungguh tidak pantas bercanda semacam itu. Tapi saya tak melihat wajahnya sedang bercanda.

Perawat-perawat itu bingung. Ada yang

menyeletuk, “Siapa sih dia?” Begitu dijelaskan bahwa ia adalah pemuka

Ahmadiyah, mereka hanya menyahut “Oooohhh”.

GILA! Kebencian itu bisa disebarkan dengan mudah oleh seseorang yang

berlabel anggota DPRD. Seseorang yang dianggap terhormat karena mewakili

rakyat sebagai pemegang mandat tertinggi di negara ini. Benar kata

@kopiganja, seseorang yang saya kenal di twitter. Kebencian itu sudah

melembaga. Bahkan di lembaga tinggi semacam DPRD.

Tuhanku, inikah yang Kau harapkan? Pembelaan macam inikah yang kau

inginkan?

mereka kira membubarkan Ahmadiyah akan menyudahi pertikaian ini. Tanpa

pernah berkaca, mereka selalu menuding Ahmadiyah lah yang salah. Padahal

ketika membubarkan Ahmadiyah, mereka hanya akan mencerai-beraikan

organisasinya. Tapi tidak dengan keyakinannya.

“Kami akan semakin kuat. Dengan nyawa kita akan pertahankan,” kata bapak

yang saya temui di masjid sebelumnya.

Dan jika saya menjadi dia,saya pun akan berbuat yang sama. Ketika saya

ditekan, saya akan memperkuat pertahanan diri. Saya akan semakin kokoh.

Saya mengutuk berbagai adegan film yang mempertontonkan bagaimana nazi

memburu Yahudi seperti binatang. Dan kenyataan itu kini hampir menjadi

kenyataan di negara saya sendiri. Yang mengaku Berketuhanan Yang Maha

Esa. Diam-diam saya menangis. Perih.

Perih itu lalu berganti marah. Saat mengingat pemimpin negeri ini hanya

bisa bilang “Prihatin”. Lelah sudah dengan segala macam keprihatinannya.
Kalau semua ini dibiarkan, bagaimana jika suatu hari kelak anak saya

yang akan dikuliti tubuhnya, digantung, dipukuli lalu dibiarkan mati

dengan luka di sekujur tubuhnya. Dan diiringi pujian kepada Tuhan yang

Maha Besar. Hanya karena keyakinan yang berbeda…

Setelah membaca ini apakah Anda berpikir saya sesat? Tak apa… Silakan

saja. Saya juga tak perlu mengumbar bagaimana hubungan saya dengan Tuhan

kepada Anda.

Satu hal yang saya yakini, kemanusiaan bersumber pada hati. Hati yang

baik tidak akan membenci atau mencelakai orang lain. Saya ingin menjaga

hati ini, supaya senantiasa bersih. Dengan begitu saya bisa tetap

menjaga kepekaan saya dan tetap manusiawi. Jika dengan begitu masih

dianggap sesat, terserah saja…