Lalu Apa?

Pendiri Kompas Jacob Oetama pernah bilang di bukunya, menjadi wartawan itu menjadi jiwa-jiwa yang gelisah. Barangkali semua penulis memang demikian. Gelisah lah yang membangkitkan mual kemudian memuntahkannya. Gagasan-gagasan tidak lagi dikerangkeng di dalam kepala.

Kegelisahan pula yang menuntunku menengok kembali laman ini. Sekian lama disibukkan berbagai hal – yang seringkali tidak sebenar-benarnya urusanku – akhirya rindu juga dengan rumah kecil ini. Seperti anak kecil yang sudah lelah bermain-main ke sana kemari. Ingin sekadar duduk santai dan memikirkan kembali apa yang sedang terjadi.

Hidup dengan tenggat harian seringkali membuat kehilangan banyak hal. Dan mengutuk diri sendiri karena tidak banyak melakukan sesuatu yang benar-benar diinginkan. Tapi kadang ragu juga apakah benar demikian? Nah ini, ini yang perlu dipikirkan kembali.

Inginnya bisa membuat komitmen untuk menyisihkan waktu barang sejenak, bercengkrama dengan diri sendiri. Menakar kembali tentang ini itu juga menyusun rencana baru. Ah tapi tak perlulah ada komitmen kaku. Toh yang sudah-sudah, kalau hubungannya dengan waktu maka semua jadi tidak berlaku. Huh.

Aku hanya ingin lebih jujur. Jujur pada diri sendiri. Jujur harus dimulai dari hal-hal kecil bukan? Tentang apa yang disukai dan dibenci, tentang apa yang dimaui dan kapan harus kompromi? Semoga kejujuran itu akan menuntunku menemukan jawaban atas pertanyaan hidup terbesar abad ini: Lalu apa?