Saya Memilih

Pada sebuah diskusi di kelas yang diampu oleh Pak Anies Baswedan di Program Pascasarjana Universitas Paramadina, dia bertanya pada kami mahasiswanya. Saya sudah tidak hapal redaksional percisnya, tapi kira-kira begini: pada sebuah situasi bangsa yang rakyatnya masih lapar, korupsi dimana-mana, apakah demokrasi tetap penting?

Kami tidak langsung menjawab. Dengan ragu-ragu beberapa dari kami menjawab penting. Sebagian lagi menjawab, tidak. Pak Anies tidak segera memberikan konfirmasi benar atau salah. Dia justru membuat gambar di papan tulis. Lalu bercerita panjang.

Kesimpulan saya dari penjelasan Pak Anies, lembaga eksekutif dan legislatif itu umpama pabrik. Hasil produksinya ialah kebijakan yang mempengaruhi kehidupan seluruh bangsa. Maka apa jadinya kalau bahan-bahan yang masuk ke pabrik itu tidak berkualitas? Besar kemungkinan kebijakan yang dihasilkan pun tidak akan baik.

Demokrasi yang berciri pergantian kepemimpinan melalui Pemilu itu adalah upaya untuk menyaring agar bahan-bahan yang masuk ke pabrik adalah yang terbaik. Harapannya, produk yang dihasilkan juga terbaik.

Jadi, apakah demokrasi penting? Iya, penting.

Demokrasi tidak menjanjikan kesejahteraan, tetapi demokrasi memberikan peluang yang sama untuk semua orang. Maka mereka yang lapar, punya kesempatan yang sama untuk mencari makan. Mereka yang sakit, punya kesempatan yang sama untuk mendapatkan perawatan. Mereka yang tua, mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan perlindungan. Mereka yang mau sekolah, mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan. Jika peluang itu ada dan dimanfaatkan dengan baik, niscaya sejahtera.

Namun kesempatan yang sama itu seperti dua sisi mata pedang. Ia juga memberi kesempatan bagi mereka yang tidak setuju demokrasi untuk hadir dan berkembang. Mereka yang tidak setuju demokrasi bisa mencoba masuk dan menguasai pabrik untuk kemudian menghasilkan produk yang mereka inginkan.

Seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, sebab pemegang saham terbesar pabrik itu adalah rakyat. Rakyat yang bisa memberi ijin mereka bisa masuk atau tidak. Caranya? Gampang, gunakan hak pilih pada Pemilu. Pilihlah orang-orang baik.

Tapi memilih itu bukan perkara gampang untuk semua orang. Banyak alasan, banyak pertimbangan. Dari yang paling sederhana, sampai yang njelimet. Itu sebabnya banyak juga yang tetap tidak menggunakan hak pilihnya. Di negara demokrasi, tidak memilih bukan kejahatan yang harus diadili. Memilih adalah sebuah kesadaran pribadi.

Setelah Pemilu 2004, saya tidak pernah menggunakan hak pilih lagi. Saya terlalu malas. Malas mengurus hak suara saya, saya pun malas mencari tahu calon-calon pimpinan negeri ini. Toh hasilnya kurang lebih sama.

Pilpres 2014, saya memutuskan untuk memperjuangkan hak pilih saya. Saya bukan generasi emas bangsa ini. Saya belum pernah menjadi bagian dari perubahan bangsa ini. Reformasi 1998, saya masih SMP. Menyaksikan pergolakan dari kotak televisi. Apalagi 1965 dan 1945, hanya baca dari buku. Tapi toh, saya menikmati buah dari setiap perubahan bangsa ini.

Saya meyakini, Pemilu tahun ini berbeda. Terlalu banyak paradoks yang membuat saya pening. Orde baru yang katanya sudah tumbang, ternyata masih ada. Orang yang selama ini sulit diseret ke persidangan justru terus-terusan muncul di ruang publik. Dielu-elukan bak pahlawan. Sebagai pemegang saham atas bangsa ini, saya tidak mau kebijakan dan keputusan negara diambil oleh orang yang bermasalah.

Bagi saya, Pilpres kali ini sungguh sederhana. Pilihannya hanya dua. Tidak sulit mencari rekam jejaknya. Tapi Pilpres kali ini sungguh menguras emosi. Orang yang saya nilai bermasalah bisa sedekat itu dengan pintu Istana. Kampanye paling keji digunakan. Saya tidak bisa tinggal diam. Sering kali kegagalan itu karena orang baik hanya diam dan mendiamkan. Saya memutuskan terlibat. Saya tidak ingin kelak waktu saya habis untuk menggerutu karena menyadari negara ini jatuh ke tangan orang yang salah.

Dalam definisinya yang paling sederhana, demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Rakyat adalah saya, Anda, kita semua. Ini pesta kita. Suara kita sangat penting menentukan nasib bangsa ini setelah negara gagal membendung orang bermasalah maju ke bursa pencalonan.

Di tengah pesimisme karena sebagian kawan masih keukeuh golput, belakangan emosi saya terkuras karena begitu terharu melihat akar rumput bergerak. Perbincangan dengan sopir taksi, tukang bajaj, pedagang, anak muda, kawan bekerja, teman sekolah, saudara, dinamika di media sosial, menyadarkan saya bahwa kesadaran politik itu sudah terbangun. Harapan itu belum mati. Mereka menginginkn perubahan. Mereka menyadari Pilpres ini bisa menjadi titik balik perubahan itu. Mari sama-sama merawat harapan ini.

Inilah pesta demokrasi. Mari merayakannya bersama-sama. Mari terlibat!

Advertisements