What a Random Country

Menonton berita televisi tentang perseturuan jemaat gereja dengan sekelompok masyarakat. Nyaris setiap Minggu umat Kristiani di beberapa tempat di Indonesia harus ribut untuk beribadah. Lokasi gereja mereka dipersalahkan. GKI Yasmin di Bogor dan HKBP Philadelphia di Bekasi contohnya. Mereka dihalangi beribadah.

Entah kenapa ada orang yang suka ribut-ribut seperti itu. Isunya ga pernah berubah dari dulu. Pertama, pasti mempersoalkan perijinan. Lalu menyebut mengganggu. Lalu menyebut takut Kristenisasi.

Saya lalu membayangkan. Bagaimana jika suatu hari saya niat beribadah lalu dihadang, dilarang. Apa yang salah dengan beribadah?

Perijinan tempat ibadah? Ayolah, jumlah gereja ga sebanyak masjid. Yakin semua masjid punya ijin? Lalu ada yang bilang, umat Kristiani ga banyak jadi ga perlu gereja banyak-banyak. Coba hitung deh, di satu wilayah ada berapa masjid. Apa semua penuh?

Mengganggu? Well, ini ga jelas ya yang dibilang mengganggu itu seperti apa. Beribadah di tempat ibadah jelas itu tempat yang tepat. Kalau beribadah di tengah pasar atau di tengah jalan itu baru mengganggu.
Di sekitar masjid itu tidak semuanya muslim. Adzan pun bisa didengar orang lain yang beragama Kristen, Katholik, Hindu, Budha, tidak beragama sekalipun. Apakah mereka terganggu? Bisa jadi. Apa mereka protes? Wah kalau sampai protes, bisa diusir kali. Ibadah di gereja aja dilarang, apalagi protes-protes.

Takut Kristenisasi?
Paling ga paham dengan alasan ini. Kenapa agama disebut keyakinan? Ya karena yakin. Ya karena ga semudah itu orang berubah. Kalau ada yang mudah berubah, ya coba ditanyakan pada diri sendiri. Kenapa bisa mudah berubah?
Dalam Islam ada kewajiban untuk berdakwah. Mau ga disebut Islamisasi? Kristenisasi itu konotasinya selalu negatif. Kenapa tidak memandang mereka juga berdakwah? Boleh dong umat lain pun berdakwah. Soal menuruti atau tidak, ya itu urusan masing-masing. Kecurigaan-kecurigaan macam ini yang merusak. Seperti ulat yang memakan buah.

Semua dilihat dari kacamata mayoritas. Padahal mereka yang minoritas itu tidak tiba-tiba ada. Mereka lahir dan besar di tanah yang sama, Indonesia. Pendahulunya juga ikut berjuang membangun bangsa ini. Lalu sekarang mereka seperti orang yang numpang hidup. Cuma nunut. Selebihnya adalah milik mayoritas.

Saya sedih sekali. Sedih.

Suatu kali, saya pergi dengan saudara saya. Dia seorang Kristiani. Di jalan, kami menemui beberapa orang yang berdiri di tengah jalan sambil mengulurkan jaring seperti yang dipakai untuk menangkap ikan. Di pinggir jalan ada yang berbicara dengan pengeras suara. Menginformasikan bahwa mereka sedang membangun masjid dan meminta “partisipasi” pengguna jalan untuk menyumbang. Di tembok bakal masjid itu tertulis biaya yang dibutuhkan untuk membangun masjid itu lebih dari Rp 1 miliar. Wow!

Tidak jauh dari lokasi itu, tidak lebih dari 1 km, terdapat sebuah masjid yang sunyi. Tidak megah. Tapi masih berdiri kokoh. Saya berpikir, kenapa harus membuat lagi kalau yang ada saja tidak dirawat.

Lalu saudara saya itu berkata lirih, “Kalau kami yang melakukan itu pasti diprotes habis-habisan. Kami bangun dengan uang sendiri saja masih diprotes.”

Saya diam. Menelan ludah. Saya tidak tahu harus bilang apa. Kalau kamu jadi saya, apa yang akan kamu katakan?

Dia lahir dan tinggal di negara yang sama dengan saya. Membayar pajak yang sama. Tunduk pada hukum yang sama. Tapi pada saat yang sama, dia tidak merasa merdeka. Apa salah mereka?

Bertahun-tahun persoalan ini tidak pernah selesai. Jauh panggang dari api.
Kemana negara? Pemerintah? Mereka yang sebelumnya mengemis suara kami – tak peduli beragama apa – agar menjadi penguasa. Sekarang mereka hanya bisa melihat konflik demi konflik terjadi. Membiarkan hukum rimba terjadi di antara modernitas yang tidak terbendung.

Tetapi saya lebih mencemaskan mereka yang diam, tak bersuara. Tetapi sebenarnya, di dalam hatinya, senang dengan keadaan ini. Menikmati “kemenangan” ini. Buat saya, mereka sama jahatnya dengan mereka yang menghadang orang yang beribadah.

Oh Justin Bieber, kamu benar. Saya tinggal di negara yang random.

Advertisements

Sehari Saja Kawan

20120501-214242.jpg
Sumber: AJI untuk Peringatan Hari Buruh Internasional 2012

Satu kawan bawa tiga kawan
Masing-masing nggandeng lima kawan
Sudah berapa kita punya kawan

Satu kawan bawa tiga kawan
Masing-masing bawa lima kawan
Kalau kita satu pabrik bayangkan kawan

Kalau kita satu hati kawan
Satu tuntutan bersatu suara
Satu pabrik satu kekuatan
Kita tak mimpi kawan!

Kalau satu pabrik bersatu hati
Mogok dengan seratus poster
Tiga hari tiga malam
Kenapa tidak kawan

Kalau satu pabrik satu serikat buruh
Bersatu hati
Mogok bersama sepuluh daerah
Sehari saja kawan
Sehari saja kawan

Sehari saja kawan
Kalau kita yang berjuta-juta
Bersatu hati mogok
Maka kapas tetap terwujud kapas
Karena mesin pintal akan mati
Kapas akan tetap berwujud kapas
Tidak akan berwujud menjadi kain
Serupa pelangi pabrik akan lumpuh mati

Juga jalan-jalan
Anak-anak tak pergi sekolah
Karena tak ada bis
Langit pun akan sunyi
Karena mesin pesawat terbang tak berputar
Karena lapangan terbang lumpuh mati

Sehari saja kawan
Kalau kita mogok kerja
Dan menyanyi dalam satu barisan
Sehari saja kawan
Kapitalis pasti kelabakan!!

-Wiji Thukul-

Selamat Hari Buruh Internasional 2012!
Jurnalis juga buruh!
Jurnalis berserikat, sekarang!