Tentang Alif di Negeri 5 Menara

Bangsa kita sekarang sedang diajari kembali untuk bercita-cita. Mempunyai cita-cita yang paling indah dan mulia, lalu mengejarnya. Barangkali dengan cara itu bangsa ini bisa bangkit (lagi).

Kenapa saya bilang begitu, karena sekarang ini banyak sekali buku-buku yang temanya tentang bagaimana seseorang dari pelosok negeri mempunyai cita-cita yang nyaris mustahil, namun pada akhirnya berhasil dengan kegigihan dan doa. Diawali dengan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Gelombang karya sejenis datang tak berjeda sampai hari ini. Sebenarnya jauh sebelum Laskar Pelangi, saya sudah sering membaca novel dengan benang merah serupa. Misalnya saja “5 cm” karya Donny Dhirgantoro. Novel itu seperti motivator bagi para pemimpi. Saya membacanya saat masih kuliah, lebih dari lima atau enam tahun silam. Buku ini sampai sekarang masih bisa dijumpai di toko buku.

Tapi Laskar Pelangi menjadi berbeda karena diangkat dari kisah nyata. Artinya, yang ditulis itu bukan omong kosong. Tidak ada yang mustahil, semua bisa terwujud. Setelah tetralogi Laskar Pelangi sukses di pasaran tidak hanya bukunya tetapi juga filmnya, sekarang ada cerita sejenis yang sedang hits. Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi. Seorang mantan jurnalis jebolan pondok pesantren. Buku ini mengisahkan enam santri yang berhasil meraih impiannya menjelajah dunia.

Saya tidak membaca bukunya. Saya sudah menyerah dengan novel motivasi semacam itu. Bahkan saya berhenti membaca Laskar Pelangi hanya sampai Sang Pemimpi dan Edensor. Maryamah Karpov hanya mejeng di rak buku saya tanpa saya menyelesaikan bab pertama. Kenapa? Alasan subyektif. Saya kecewa dengan penulisnya. Saya minta maaf bagi penggemar Andrea Hirata sejagad raya ini, tapi saya memang kecewa. Saya menghadiri acara bedah bukunya di ITB beberapa tahun lalu. Membawa semangat menggebu seperti yang ia tularkan dari bukunya, dan semuanya runtuh hanya dengan satu kalimatnya. Sejak saat itu saya berkesimpulan, biarlah karya terpisah dengan pengarangnya. Ketika saya tidak sreg dengan penulisnya, lalu membuat saya berhenti membaca karyanya itu jelas tidak elok. Tapi terus terang setelah itu belum ada lagi novel motivasi yang saya baca, termasuk Negeri 5 Menara.

20120311-093908.jpg
Sumber foto: http://www.republika.co.id

Saya menonton film Negeri 5 Menara tanpa tahu cerita di buku seperti apa. Secara keseluruha ide, jelas menarik. Cerita sukses anak negeri lainnya. Kisah ini juga berasal dari kisah hidup penulisnya. Di buku dan film itu diwakili oleh sosok pemeran utama bernama Alif.

Saya tidak akan berkomentar soal sinematografi, karena saya tidak paham. Sebagai penonton, saya terhibur dengan gambar pemandangan Danau Maninjau, juga Jam Gadang khas Sumatera Barat. Lalu bergeser ke Ponorogo, Jawa Timur. Dan terakhir pemandangan di luar negeri. Entah Eropa atau Amerika ya, saya lupa. Tapi yang saya ingat Alif waktu itu digambarkan sudah menjadi wartawan di VoA (Voice of America), tapi di situ dia berbahasa Perancis. Hanya saja, di gambar di pesantren kurang dieksplor. Nyaris setting dalam film itu hanya di bawah menara (yang menaranya hanya tampak beberapa kali), ruang kelas, kamar, masjid, lapangan badminton, rumah kiai, dan ruang ekskul jurnalistik. Sudut pengambilan gambarnya juga biasa saja. Tapi tidak terlalu menggangu. Sampai di sana film garapan Affandi Abdul Rachman ini bagus.

Saya mau kasih jempol untuk akting David Chalik dan Lulu Tobing. Padang-nya terasa betul. Apalagi sudah jarang lihat akting mereka, sungguh menyegarkan.

Saya justru terganggu dengan karakter pemeran utamanya, si Alif itu. Sepanjang film, saya hanya melihat Alif tertawa riang hanya di menit-menit pertama dan menit-menit terakhir. Selebihnya dia semacam pemuda galau. Senyumnya dipaksakan, lalu bukan tipe orang yang kelihatan aktif. Dia pemalu, sering menunduk, dan tidak riang dibandingkan teman-temannya yang lain. Kemungkinan besar hal itu karena dia masih belum ikhlas betul sekolah di pesantren. Dia masih ingin sekolah di ITB. Buat saya, itu kontras dengan sinopsisnya yang bilang kalau di hari pertama sekolahnya, dia tersihir dengan mantra “Man Jadda Wajada”. Siapa yang bersungguh-sungguh, dialah yang berhasil.

Entah seperti apa bukunya. Tapi saya sih melihat kegalauan Alif tidak beralasan. Kalau ingin ke ITB, tentu dia bisa melakukannya setelah lulus dari pesantren. Sekolah di ITB kan tidak harus ber-SMA di Bandung. Pada akhirnya dia memilih menjadi jurnalis dan berhasil studi di luar negeri.

Untuk sebuah kisah dengan pemeran utama enam remaja pria, cerita film ini kurang nakal. Saya membayangkan ada adegan mereka menyelinap keluar asrama untuk main ke pasar atau melakukan misi gila ala remaja. Atau misalnya mengorupsi waktu istirahat untuk kabur karena ingin nonton tivi. Teman-teman saya yang jebolan pondok pesantren dulu soalnya ada bandelnya juga. Tapi jangan salah, mereka berhasil sekarang.

Mungkin karena memang anak-anak itu adalah anak-anak yang manis dan tidak pernah nakal. Jadi tidak pernah ada adegan mereka melanggar aturan. Kenakalan maksimalnya hanya telat mengikuti kegiatan dengan hukuman jewer telinga temannya.

Kebetulan pacar saya jebolan sekolah asrama juga. Wah kalau dengar ceritanya seru sekali. Malam-malam menyelinap ke luar untuk menangkap lele di empang untuk dibakar. Alasannya, bosan dengan makanan di asrama yang seringkali hanya parade tempe tahu bergantian mengiringi sayur. Ayam goreng hadir hanya di waktu-waktu tertentu. Apalagi daging, wah langka!

Kembali ke Alif. Saya orang yang sadar betul bahwa laki-laki boleh menangis. Sungguh tidak mengapa jika kalian wahai kaum Adam jika ingin meluapkan emosi dengan menangis. Tapi kalau sepanjang film tampak murung, lalu setiap puncak kegalauan itu menangis terisak. Sungguh itu galau akut namanya.

Saya selama ini percaya laki-laki itu bisa cepat beradaptasi selama dia bisa main bola, atau berkumpul dengan teman-temannya. Saya kira masa galau tinggal di asrama hanya sekitar satu tahun pertama. Tahun berikutnya adalah tahun-tahun kesenangan. Sahabat saya juga sekolah di sekolah berasrama. Tahun pertama bawaannya ingin pulang. Kangen rumah, keluarga, teman dan jengah dengan senior. Tapi kondisi berbalik ketika tahun kedua. Kangen rumah sih tetap, tapi kalau disuruh pulang malas. Sudah asyik betul tinggal di asrama.

Mengingat tokoh Alif ini adalah jelmaan penulisnya, yaitu Mas Ahmad Fuadi, kritik karakter ini tidak saya maksudkan mengkritik karakter Mas Fuadi. Sebab saya tidak mengenal dia secara pribadi. Saya juga tidak tahu apakah karakter semacam ini juga tertangkap dari novelnya. Atau Gaza Zubizareta yang tidak berhasil menterjemahkan karakter Alif dari novel ke film. Entahlah. Jadi ini murni kritik saya yang hanya menonton saja.

Saya percaya, kenakalan juga bisa mengajarkan kehidupan. Anak baik-baik selalu berhasil itu tidak selalu terbukti. Anak bandel jadi sukses, itu juga tidak sedikit. Saya suka karakter semacam Lupus. Bandel, kocak, tidak terlalu pandai tapi kreatif, dan sayang keluarga. Buat saya, Lupus adalah sosok yang sukses melalui dan menikmati masa remajanya.

Anda boleh tidak sepakat dengan saya tentang semua yang saya tulis. Tapi semua setuju kan dengan kata Bang Haji Rhoma Irma, masa muda adalah masa yang berapi-api.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s