Bu Nunun, Saya, dan Toilet

Saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman saya di toilet bersama Nunun Nurbaeti. Anda tahu Nunun kan? Istri Mantan Wakapolri Adang Daradjatun, yang sedang berpekara di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta karena dituduh menyuap Anggota DPR untuk mengegolkan Miranda Gultom sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia 2004.

20120309-121821.jpg

Bisa jadi, ini pengalaman yang tidak akan terulang. Maka dari itu, saya ingin berbagi dengan Anda semua.

Toilet di Pengadilan Tipikor, di lantai 1 Gedung Ombudsman Indonesia, hanya ada satu untuk wanita dan satu untuk pria. Letaknya berdampingan. Toilet ini digunakan untuk saksi, terdakwa, jaksa, penasihat hukum, wartawan, juga pengunjung lainnya. Saya bekum pernah berpapasan dengan hakim. Sepertinya hakim menggunakan toilet yang lain.

Karena saya perempuan, saya hanya bisa cerita kondisi toilet perempuan. Kalau yang laki-laki, saya belum pernah masuk. Kondisi toilet ini bisa dibilang kurang memadai. Hanya ada satu toilet dengan satu kloset duduk dan sebuah kran air. Tisu kadang ada, kadang juga tidak ada. Selang khusus yang biasa digunakan setelah menggunakan kloset tidak ada. Jadilah di kran air itu dipasang sebuah selang biasa. Selang itu juga digunakan untuk wudhu. Satu hal yang perlu disyukuri, keramik toilet masih bagus. Jadi kondisinya tidak terlalu memprihatinkan.

Buat saya pribadi sih sering melihat toilet yang lebih buruk dari itu. Tapi untuk ukuran gedung bertingkat di ibu kota, memang bisa dibilang tidak memadai. Saya sering mendengar pengguna toilet protes dengan kondisi toilet. Barangkali, toilet di rumahnya lebih bagus.

Rabu (7/3) siang saya berniat wudhu, mumpung sidang sedang diskors. Sampai di toilet, saya bingung dengan kondisi toilet. Pintu terbuka, pertanda tidak dipakai. Tapi di atas kloset yang terbuka itu semua bagiannya ditutup dengan tisu kering. Lantainya juga kering, seperti habis dipel lalu dikeringkan. Saya melihat dua orang sebelum saya mengantri di depan pintu, padahal toilet kosong.

“Kenapa nggak masuk?” tanya saya.
Seorang perempuan, saya tidak menanyakan namanya, sedang sibuk dengan tasnya. “Sebentar mbak, buat ibu,” katanya.
“Hah? Maksudnya? Ibu siapa?” tanya saya lagi dengan nada bingung.
“Ibu Nunun,” jawabnya.

Ternyata dia adalah salah satu rombongan pengantar Bu Nunun, entah apa kedudukan dan tugasnya. Yang jelas, dia yang menyiapkan toilet sebelum digunakan Bu Nunun.

Meski toilet sudah siap, Bu Nunun tidak juga datang. Rupanya masih mengobrol dengan kerabatnya. Kasihan dengan yang mengantri dengan muka kebelet pipis, akhirnya ibu itu mempersilakan kami menggunakan toiletnya. “Pakai dulu saja, nanti saya keringkan lagi,” katanya lagi.

Ketika saya wudhu, datanglah Bu Nunun. Melihat toilet kembali basah, tangannya langsung meraih gagang pel yang berada di dekat pintu. Saya sempat meminta maaf karena menggunakan toiletnya. Ya, meskipun itu toilet umum, saya agak tidak enak juga menggunakannya karena sudah dikeringkan untuk Bu Nunun.

“Oh nggak papa mbak, silakan saja,” katanya.

Melihat Bu Nunun sudah ancang-ancang hendak mengepel lantai toilet, perempuan yang tadi buru-buru mencegahnya. Ia ingin mengambil alih pel tadi.

“Jangan, biarin. Saya ingin kerja. Biarin terdakwa ngepel,” kata Nunun berkelakar.

Saya hanya bisa geleng-geleng. Semoga Bu Nunun tidak sedang menahan pipis. Kalau sudah kebelet, mana tahan menunggu toilet kering.

Bu Nunun saat ini tinggal di Rutan Pondok Bambu, bercampur bersama tahanan yang lain. Saya jadi membayangkan seperti apa toilet di sana. Saya belum pernah melihatnya. Tapi saya yakin lebih buruk dari toilet ini.

Pikiran jahil saya jadi terusik. Bagaimana Bu Nunun menghadapi toilet di Rutan? Menuntaskan rasa ingin tahu, saya tanya ke perempuan tadi. “Bu, kalau di tahanan Bu Nunun bagaimana?” tanya saya.

“Ya ada yang bersihin,” katanya sambil sibuk menyiapkan toilet.
“Siapa?”
“Adalah yang lain, tapi bukan saya,” katanya sudah dengan nada malas menjawab.

Nah lho?! Siapa orang itu? Masih misterius buat saya.

Bagi sosialita seperti Nunun, yang sering datang ke tempat mewah dan menyukai barang bermerk itu, pasti tidak pernah membayangkan ada toilet yang seperti itu. Apalagi di penjara, yang pastinya lebih jorok.

Saya membayangkan, pergi ke toilet adalah siksaan tersendiri baginya. Ia pasti merindukan toilet di rumahnya sendiri. Yang bersih, nyaman, wangi. Barangkali, dihukum setahun saja dirasanya terlalu berat. Bayangkan selama itu dia harus menggunakan toilet berapa kali? Sebanyak itu pula dia merasa sengsara setiap akan menggunakan toilet.

Pantas saja saat hukuman mati bagi koruptor diusulkan, banyak yang tidak setuju. Katanya terlalu berat. Menggunakan toilet jorok aja sudah sengsara, apalagi hukuman berat. Tapi apapun itu, mereka yang salah harus menerima hukuman setimpal. Apalagi jika benar terbukti korupsi. Jangan pernah berpikir bisa selamat dari lubang hukum.

Kembali soal Bu Nunun, saya cuma bisa prihatin -sebagaimana yang sering diucapkan Pak Presiden Es-Be-Ye. Seandainya nggak korupsi, mungkin nggak begini ya Bu Nunun…

Ya, begitu saja. Jangan ada yang nanya apa saya pernah punya pengalaman di toilet dengan Nazaruddin ya! Toiletnya beda!

Advertisements

2 thoughts on “Bu Nunun, Saya, dan Toilet

  1. dita says:

    pernah dulu waktu liputan di kejaksaan agung. saya numpang sholat dhuhur di mushola pidsus. yang biasa dipakai semua orang mulai jaksa, tersngka, smpe wartawan. ternyata bebarengan dengan Yusril. Seseorang mempersilakan Yusril jadi imam. eh dia bilang: saya ini orang pesakitan, jangan lah jadi imam.. :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s