Ternyata Saya Benci Terbang

20 jam setelah penerbangan Malang-Jakarta yang mendebarkan.

Bepergian dengan pesawat terbang di cuaca buruk belakangan, cukup membuat saya memahami satu hal. Saya benci terbang.
November 2011, penerbangan dari Makasar menuju Jakarta usai mengikuti Kongres Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia salah satu yang terburuk yang pernah terjadi. Penerbangan tertunda sampai hampir tiga jam karena hujan deras dan semua pesawat datang terlambat. Kami terbang saat hujan masih turun meskipun sudah mereda. Menembus mendung menuju ketinggian puluhan ribu kilometer. Seperti berada di dalam kotak sabun yang sedang dimainkan balita. Atau seperti dadu yang dikocok oleh ibu-ibu arisan. Tiba-tiba pusing. Lalu mual.

Teman saya, yang duduk di sebelah kanan saya, meremas celana saya. Daging paha saya ikut diremasnya. Ini bukan cerita jorok! Kalau kau lihat wajahnya, kau akan iba. Mukanya pucat pasi. Matanya terpejam erat. Mulutnya komat-komit membaca doa sesekali diselingi umpatan.

Saya terkekeh. Dalam hati, saya pun takut! Maka saya berakting tertawa. Apalagi dia laki-laki. Saya punya lelucon untuk menutupi kepanikan saya.
Entah di ketinggian berapa, beberapa saat setelah kami tenang. Setelah lampu tanda sabuk pengaman dipadamkan, lampu itu menyala kembali. Pramugari yang melayani kami tadi berbicara melalui pengeras suara. “Penumpang yang terhormat, saat ini kita sedang menghadi cuaca buruk. Untuk keselamatan, pastikan Anda tetap berada di tempat duduk dan sabuk pengamanan Anda terpasang sempurna,” katanya.
Alamaaaakkkk! Apalagi iniiiiiii…

Dan kotak sabun kami kembali berguncang keras. Kali ini seperti berada di roller coster yang sedang meluncur kencang.
“Somebody please stop this fuckin plane! Get me out of here! Now!” jeritku. Tidak, itu cuma jeritan dalam hati.
“Tuhan, tidak sekarang,” dalam hati aku berdoa.
Semua doa yang kuhapal kurapal sekenanya. Maaf tajwid nya ga beraturan ya Allah, saya panik.
“Penumpang yang terhormat, sesaat lagi kita akan mendarat di Bandara Soekarno Hatta Jakarta,” kata pramugari yang tadi lagi.
Finally…

Setelahnya, saya merasa lebih sensitif setiap kali terbang. Saya jadi paranoid. Saya memperhatikan orang di sekitar saya. Rasanya ingin menerkam orang-orang yang masih ngobrol di telepon saat sudah di pesawat. Saya perhatikan orang di samping saya apakah mereka sudah memastikan telepon selulernya. Terakhir saya ingin menonjok ibu-ibu yang menyalakan telepon selulernya tidak lama setelah pramugari mengumumkan kami segera mendarat. Kita masih di udara dan dia menyalakan selulernya. Pleaseeeee! Darimana saya tahu? Bunyi khas Nokia kalau dinyalakan itu sungguh tidak bisa berbohong!

Dan saya jadi tegang kalau melihat pramugari yang tidak ramah. Jangan-jangan dia tahu rahasia. Barangkali dia tahu ada kerusakan mesin, atau ban pesawat yang bocor, atau bahan bakar yang tidak cukup. Aaarrrggghhh!

Dan rasanya pingin nangis waktu penerbangan yang sudah tertunda hampir dua jam kembali tertunda karena tiba-tiba hujan deras. Dan benar saja, terakhir terbang ke Malang, saya kembali dikocok di dalam kotak sabun.

Saya tidak terlalu banyak bepergian. Saya belum pernah terbang lebih dari tiga jam. Dan saya tidak bisa membayangkan ketika itu terjadi. Mungkin saya harus menelan obat tidur lebih dulu.

Mungkin sudah saatnya saya merelakan belasan jam di kereta api. Tak apa, yang penting saya bisa berlari. Atau setidaknya melihat apa yang terjadi di luar. Bukan merelakan nasib saya pada pilot yang saya tidak kenal. Mengarungi angkasa yang tidak saya akrabi.

Barangkali ada yang tahu bagaimana menghilangkan kecemasan saat terbang? I really thank you if you wanna share it with me here….

Advertisements