Dilema Berbatik

Anda suka batik? Saya suka sekali.

Akhir pekan lalu, pas jalan-jalan di sebuah mall di Jakarta, kebetulan ada pameran batik. Gebyar sekali. Saya sudah tahu batik di pameran itu pasti akan mahal, karena mall di situ memang tidak ada barang murah. Tapi karena penasaran sama corak dan warna-warninya, mendekatlah saya. Sebuah dress pendek paduan batik dengan kain warna hitam di bagian atas. Cantik. Simple. Selera saya lah pokoknya. Begitu lihat bandrolnya, saya menelan ludah. Di bandrolnya tertulis Rp 1,2 juta. Coba lihat baju lainnya, ternyata lebih mahal lagi. Balik kanan, langsung meninggalkan pameran.

GILA!

Baju yang sederhana aja segitu, apalagi yang batik-batik buat pesta dan kain yang lebih bagus. Entahlah… harganya menurut saya nggak masuk akal.

Suatu kali ada yang bilang kalau, sebisa mungkin jangan pakai batik print. Karena itu mematikan usaha batik. Dan sebagai bentuk penghargaan pada batik, sudah sepantasnya kita berusaha untuk membeli batik tulis. Ya setidaknya batik cap.

Pingin deh protes!

Begini, jangan salahkan pembeli kalau ada barang yang lebih murah. Kalau bandingannya beli batik Rp 100 ribu dengan Rp 1 juta. Saya tidak cukup kaya untuk beli sepotong baju batik yang harganya sama dengan biaya makan saya selama tiga minggu. Kemampuan saya belum sampai segitu. Apa dengan begitu saya tidak boleh memakai kain batik?

Bukannya sekarang ini sedang digalakkan mencintai batik? Lihat saja setiap Jumat. Banyak yang pakai baju batik. Kantor-kantor sekarang kan mewajibkan batik.Dan tidak disebut harus batik tulis, tapi batik. Mau print mau cap, tidak dipersoalkan.

Saya browsing-browsing, kenapa sih batik itu mahal. Karena memang dari sananya, batik itu untuk kalangan ningrat, kalangan kraton. Jadi ya bahan dan pembuatannya istimewa. Jelas di atas harga rata-rata baju rakyat biasa. Pengikut raja yang tinggal di luar kraton ini yang kemudian menyebarluaskan batik.

Prasangka buruk saya, batik yang dijual mahal-mahal itu memang bukan untuk orang kebanyakan macam saya. Itu hanya untuk kalangan tertentu yang mampu membelinya. Yang jual juga sudah tahulah, jualan baju atau kain batik dengan harga jutaan tentu bukan untuk pegawai yang gajinya masih tujuh digit.

Kalau harga batik semahal itu, pembatiknya pasti sejahtera. “Masih banyak pembatik yang miskin. Yang kaya kan pengusahanya. Juragannya. Pegawainya ya sama saja,” kata teman saya yang lain.Jadi batik mahal itu uangnya lari kemana saja? Entahlah. Barangkali ada yang bisa bantu saya menjawab ini.

Tapi tidak bisa dimungkiri, proses pembuatan batik tulis ini sangat panjang. Ada pakem-pakem yang tidak bisa dilanggar. Membutuhkan ketelatenan luar biasa. Semua dikerjakan manual. Jadi ya mahal. Sementara wajar adalah sebuah relativitas. Maka bisa berbeda-beda derajatnya pada setiap orang.

Nah, yang bikin sebel adalah ada orang-orang yang mengaitkan kepemilikan batik tulis dengan nasionalisme. Kalau beli batik tulis itu nasionalis. Bahwa “mahal” itu sebuah harga sebuah budaya yang menjadi kekayaan budaya kita. Kalau beli print itu anasionalis. Dituduh menghancurkan usaha batik.

Begini ya wahai pecinta budaya, kalau di negara ini UMR nya cukup untuk sandang, pangan, papan dan sehelai batik tulis. Bolehlah rumus itu dipakai. Kalau dipaksakan, kayanya bakal cuma sedikit orang yang bisa beli batik itu. Mungkin saya baru bisa beli batik tulis setelah nabung berbulan-bulan.

Saya suka motif batik, suka sekali. Tapi terus terang saya belum punya batik tulis. Pingin punya? Iya jelas. Mungkin menunggu harganya lebih masuk akal buat saya. Sementara ini, saya belum peduli dengan tulis atau tidak. Yang penting motif bagus, bahan nyaman, harga pas di kantong. Mau menyebut saya tidak menghargai budaya bangsa? Saya pasrah.

Urusan batik ini ko jadi dilematis ya? Saya sih berharap, batik tidak jadi barang mewah. Sebenarnya baju apapun, ada yang murah ada yang mahal. Tinggal punya uang berapa, ya belilah yang itu. Tapi urusan batik tidak sekedar baju. Di sana melekat budaya, warisan leluhur, makna, tradisi, bahkan nasionalisme.Semoga hal-hal itu tidak dipakai sebagai alat dagang, sehingga yang mahal dianggap lebih baik.

Semoga saja ada designer atau produsen batik yang berkenan membuat batik tulis tapi harganya tidak terlalu mahal. Tapi kayanya pesimis juga. Salah satu merk batik yang disokong Pak Presiden saja harganya buset deh, selangiiitttt!

Kalau sudah begini, ya maafkan saya kalau masih pakai batik print atau cap.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements