dike-JAKARTA-kan

20120309-122520.jpg
Sumber foto: Jakarta City Light

J A K A R T A
Saya sering prihatin dengan status facebook atau twitter teman-teman yang tinggal di Jakarta. Berangkat kerja mereka mengeluhkan macet. Pulang kerja mereka pun mengeluhkan macet.
Kala itu saya merasa bersyukur karena tidak berada di sana. Saya begitu berbahagia bukan bagian dari kota yang bersimbah kutukan dari penghuninya. Saya pun tak bercita-cita tinggal di Ibu Kota yang katanya jauh lebih kejam dari ibu tiri Cinderella.
Sampai suatu sore, teman-teman saya memberi selamat pada saya atas kepindahan saya ke Jakarta. “Apa? Yang bener aja! Baru juga 6 bulan di Sukabumi, mana mungkin dipindah lagi,” begitu jawa saya kepada semua yang menghubungi saya. Tapi lama-kelamaan berita itu terlalu akurat jika hanya sebatas gosip. Biasanya menjelang rotasi memang didahului dengan gosip yang semerbak seperti sedap malam.
Saya beranikan diri menelepon kantor. Melalui operator saya tanya, apakah ada surat untuk saya dari Bandung (kantpr pusat kantor saya). “Ada nih, mungkin besok sampainya,” kata kang Jajang yang suaranya sudah saya kenal akrab.
“Kang tolong bacain,” kata saya cemas.
“Iya ini mah surat tugas. Katanya dipindah ke Jakarta,” kata Kang Jajang.
Jeng jeng! Persendian saya lemas.
“Iraha (kapan dalam Bahasa Sunda) mulaina?” tanya saya tanpa daya.
“Per 1 Juli,” sambung dia.
Itu berarti lusa, gumam saya. Saya memandang teman wartawan saya yang lagi sama-sama nongkrong di warnet Sukabumi.
Saya belum siap meninggalkan kenyamanan saya di Sukabumi. Liputan yang mengasyikkan, teman-teman yang menyenangkan, dan kos yang sangat nyaman.
Segera pulang ke kos, memandangi semua isinya. Saya bingung berbenah dari mana. Saya tak kunjung mengemasi barang-barang. Tidak hari ini, kata saya dalam hati.
Tapi saya tak kuasa menunda perintah atasan. Sebagai pion, diletakkan di mana saja tak bisa saya menolak. Sejak awal, yang saya dengar, haram menolak tugas. Akhirnya tanggal 1 Juli saya pun menginjakkan kaki di Jakarta untuk menyiapkan semuanya. Baru tanggal 4 Juli, saya resmi pindah ke Jakarta.
Maka, di sini lah saya. JAKARTA.
Pusat dari negara bernama Indonesia.
Tapi, apakah saya merasakan Indonesia di sini? Hemmhhh… kita lihat nanti…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s