Mari Berdamai, Jakarta…

20120312-125143.jpg

Sumber foto: dreamstime.com

Selama 1,5 bulan di Jakarta tidak pernah seharipun saya bisa tidur sebelum pukul 1 dini hari. Pernah suatu malam, kelelahan membuat saya tertidur pada pukul 8 malam. Saya berharap terbangun pada hari berikutnya, tapi ternyata saya menikmati tidur nyenyak itu hanya satu jam. Artinya, saya begadangan lebih panjang dari biasanya. Tidur empat jam saja sudah jadi berkah.

Terus terang saja, saya kelelahan.

Saya harus akui, kondisi sekarang sudah jauh membaik. Seminggu pertama di Jakarta, setiap malam saya menangis.

Anda semua boleh menertawakan saya. Anda juga boleh menyebut saya cengeng. Begitulah keadaannya.

Saya tidak pernah membayangkan begitu sulit berada di Jakarta. Ini baru Jakarta, bagaimana jika New York. Atau, Paris! Kota yang ingin saya singgahi sebelum berusia 30 tahun.

Pembelaan saya, mental saya mental kampung. Begitu di kota besar, langsung gagap. Saya sama sekali tidak bisa mengikuti irama kebisingan di jalanan, yang bercampur dengan klakson tak berjeda. Selingannya suara orang berteriak, entah meributkan apa.

Saya ingat, ketika mempersiapkan kepindahan ke Jakarta dari Sukabumi. Pagi itu saya naik kereta api Sukabumi-Bogor. Berangkat jam 5 pagi, sampai di Bogor jam 7 pagi. Disambung dengan kereta Bogor-Jakarta. Suasananya penuh sesak. Syukurlah saya di gerbong khusus wanita, setidaknya saya merasa lebih aman meski tidak lebih nyaman.

Sepanjang perjalanan saya berdiri karena sudah tidak ada tempat duduk yang tersisa. Kebetulan saya berdiri di dekat pintu. Ketika seorang wanita hendak turun, ia menghardik saya karena menghalangi jalannya. “Minggir kenapa sih, mbak,” katanya ketus. Kalau ada posisi berdiri yang lebih baik, saya pasti sudah melakukannya sejak 1,5 jam yang lalu. Dia sangat terburu-buru. Sampai-sampai tak seorang pun diijinkan menghalangi jalannya meski hanya sesaat.

Mata saya panas, lalu meleleh. Kalau dia terlambat, atau mengalami pagi yang buruk, jelas itu bukan kesalahan saya. Mungkin dia bangun kesiangan, tak sempat dandan layak, atau tak sempat berpamitan pada anak dan suaminya. Tapi yang jelas itu bukan kesalahan saya. Tapi pagi itu, dia memilih menghardik saya.

“Selamat datang di ibukota,” bisik batin saya. Hal-hal macam itulah yang akan sering saya temui. Barangkali itu bisa menjelaskan betapa suara klakson di Jakarta tak pernah terdengar ramah.

Di kos saya di Jakarta, semua seperti punya ingatan yang pendek. Hari ini kenalan, besok sudah lupa. Percaya tidak percaya, saya baru tahu nama penghuni kosan setelah satu bulan. Ketika kami sering dipertemukan di meja makan, saat sahur. Begitu sibuk dan padatnya orang Jakarta, sampai merasa tak perlu mengingat nama seseorang yang tidur di balik tembok kamarnya.

Saya jadi membandingkan dengan kos-kosan saya terdahulu. Di Sukabumi, aaahhh saya seperti punya keluarga besar. Jangankan nama, kami ingat kebiasaan mereka setiap pagi. Ada yang keluar kamar dengan mendekap boneka untuk pesen sarapan. Ada yang pagi buta sudah bersepeda. Ada yang selalu terlambat ke kantor. Ada yang selalu berisik karena gagal mengeluarkan mobil dari parkiran. And guess what, saya hanya perlu satu minggu untuk merasa rumah itu menjadi milik kami semua. Bahwa seseorang yang tidur di balik tembokmu adalah saudara yang tidak bisa kau abaikan begitu saja. Sampai sekarang mereka masih sering berkirim kabar, meskipun mengabarkan hal kecil. Tapi itu membahagiakan. “Hei Na, aku pakai tas anyaman darimu,” tulis Sinta di pesan pendeknya. Tiba-tiba saya bahagia.

Kos di Bandung bukan kos yang besar. Hanya empat orang saja, dan keluarga pemilik kos tinggal di lantai berbeda dengan kami. Semuanya orang sibuk. Nyaris kami bertatap muka hanya pada akhir pekan. Tapi kami selalu mengobrol panjang. Saya masih ingat betapa ibu kos saya menangis tersedu-sedu saat saya pindah. Seperti hendak ditinggal anaknya. Kehangatan yang diberikan membuat saya betah tinggal di sana hampir tiga tahun lamanya.

Kos di Surabaya adalah kenangan indah lainnya. Kami seperti keluarga yang terus melahirkan generasi berikutnya. Anda tahu penangkaran hewan? Biasanya tempatnya diupayakan semirip mungkin dengan habitatnya sehingga si hewan bisa nyaman dan berkembang biak di sana. Itu analogi terbaik yang bisa saya temukan. Bukan analogi yang baik memang, tapi barangkali begitu. Saya seperti mendapatkan habitat yang cocok sehingga saya bisa berkembang dengan baik. Bukan berkembang biak yaaaa… tapi berkembang secara kepribadian dan kemampuan.

Dalam hal pekerjaan, saya pun sangat cemas menghadapi Jakarta. Saya seperti dihadapkan pada medan pertempuran yang seseungguhnya. Menghadapi rimba belantara yang luar biasa mengerikan. Saya tidak siap.

Tapi yang terjadi tidak sepenuhnya benar. Karena ternyata saya menemukan orang-orang yang berpikir mundur, meski tinggal di kota yang paling maju di Indonesia. Dan itu ternyata menyebalkan juga. Seperti misalnya, “Oh kirain jadi wartawan daerah itu nganggur. Kan di daerah nggak ada berita,” katanya enteng.

Dan begitulah, sebagian orang menganggap Indonesia itu Jakarta. Apa yang terjadi di luar Jakarta hanyalah kisah pendamping untuk memenuhi space di koran. Bukan berita utama yang penting. Padahal, kau tidak akan bisa mengeja INDONESIA hanya dengan Jakarta.

Pendek kata, banyak hal yang saya tak sepakat dengan Jakarta.

Tapi saya dipaksa takluk dengan Jakarta. Banyak hal ditawarkan Jakarta. Perpustakaan yang nyaman, pusat kebudayaan dari berbagai negara yang tidak ditemukan di semua kota di Indonesia, atau setidaknya toko yang buka 24 jam.

Saya tidak bisa mengendalikan diri saya sendiri menghadapi Jakarta. Saya terus-menerus menyalahkan perusahaan yang memindahkan saya ke kota ini. Hanya enam bulan dari keputusan mereka memindahkan saya dari Bandung ke Sukabumi. Sebagian orang menganggap kepindahan saya ke Jakarta adalah sebuah promosi. Bagi saya, ini hanya cerminan keputusan yang gamang. Yang berubah hanya dalam waktu kurang dari enam bulan.

Kenapa harus saya harus mengalami dua kali rotasi dalam satu tahun? Oke, teman saya pun ada yang mengalami rotasi dua kali dalam setahun, tapi dipindah ke Bandung. Itu artinya pulang! Belum lagi masih banyak teman-teman yang belum pernah mencicipi daerah. Kenapa harus saya? Tak henti-hentinya saya meratapi itu semua.

Malam ini, saya putuskan untuk berhenti bertanya. Saya mengulurkan tangan saya untuk bersalaman. Saya membuka lengan untuk berpelukan. Saya hapus kerutan di kening, saya tukar dengan sebuah senyuman. Atau bahkan tawa.

Mari kita berdamai, Jakarta…

Saya ingin mengenalmu lebih jauh. Sisi terbaik juga terburukmu. Tanpa ada kutukan yang keluar dari mulutku. Saya ingin kita berteman. Barangkali kita tak bisa langsung menjadi sahabat, tapi setidaknya saya tak ingin bermusuhan denganmu.

Saya tidak ingin buru-buru menyumbangkan warna lain untuk mewarnaimu. Kau sudah punya cukup banyak warna, kukira. Saya ingin menikmatimu dari hal-hal yang paling sederhana. Misalnya saja, tidur nyenyak.

Saya tidak akan menangis lagi ketika dibentak orang di kereta. Saya tidak akanbersedih, jika senyuman saya tak berbalas seperti yang saya harapkan. Saya tak akan menggerutu jika kendaraan di belakang terus-menerus membunyikan klaksonnya. Saya tidak akan membenci mereka yang menyepelakan saya.

Saya tidak ingin menumpuk beban. Saya ingin tidur nyenyak.

Saya tidak lagi menyesali perjalanan ini. Hal terbaik dan terburuk yang pernah terjadi pada saya kemarin akan membentuk diri saya hari ini dan besok. Ini perjalanan yang harus saya lalui. Bagian dari meniti jagad.

Mari bersalaman, kita berdamai.

Ah, saya mulai mengantuk.

Selamat malam Jakarta, semmoga mimpi indah….

Advertisements

Mari Bergandengan Tangan (Lagi)

20120309-123720.jpg
Sumber foto: pulsarmedia.eu

Dear my ladies…

Sudah berapa lama kita tak saling jumpa? Melewatkan hari pernikahan kalian, melewatkan hari kelahiran putra-putri kalian, atau bahkan tidak lagi mengucapkan selamat ulang tahun… seringkali membuatku merasa menjadi sahabat yang buruk. Tapi aku selalu menghibur diri dengan, “Kalian pasti mengerti”. Oh… sahabat macam apa aku ini. Maafkan aku…

Suatu hari, sekitar Februari lalu, aku SMS Puput, “Aku mau lihat perutmu yang ada dedeknya! Aku mau liat kamu kalo hamil kaya apa.” Kira-kira begitu bunyi SMS ku untuk sahabat kita yang saat itu sedang hamil memasuki bulan ke-8. Kami masih sering berkirim kabar meskipun hanya lewat SMS, Facebook atau Twitter.

Saya tahu, ia mengalami masa kehamilan yang berat. Makanya dia memutuskan pulang ke Balikpapan begitu masuk bulan ke-8, maklum suaminya pun berada di Pontianak. Melahirkan di rumah orang tua pilihan yang terbaik saat itu. Lalu dia mengirim sebuah foto. Puput yang selalu menggebu-gebu untuk semua hal yang dikerjakan, mengirimi sebuah foto yang membuat saya terkagum-kagum. Puput yang memang dari dulu kurus, ternyata tidak juga jadi gemuk. Tapi perutnya sungguh mengagumkan. Perutnya membesar, dan di dalamnya ada seorang bayi perempuan yang kini dinamai Malika.

Langsung aku menelponnya seketika itu. Obrolan kami begitu membahagiakan. Maklum sudah cukup lama tidak saling telepon. Lalu dia bilang akan melahirkan melalui operasi cesar. “Kenapa?,” tanyaku lancang.

“Na, bulan lalu aku kena musibah. Waktu usia kehamilanku tujuh bulan, aku divonis terkena tumor otak. Ukurannya sudah lumayan besar, makanya aku nggak bisa melahirkan normal karena akan memicu saraf di kepala. Operasi pun harus dilakukan cepat. Karena aku harus bius total tapi jangan sampai biusnya sampai kena dedeknya. Semua harus serba cepat,” lancar saja dia menceritakan itu. Aku membisu.

Mendengar tumor otak saja sudah menghentikan nafasku. Apalagi ada bayi yang juga harus dilahirkan. Begitulah, pertama kali aku tahu apa yang terjadi pada Puput. Puput kita. Seketika itu pula aku ingin membagi cerita ini. Supaya kita bisa menggotongnya bersama-sama. Supaya sakitnya bisa kita bagi. Atau setidaknya supaya kita bisa menemani. Tapi semua niat saya itu terhenti karena Puput bilang, “Jangan bilang siapa-siapa dulu”.

Sekuat apapun saya ingin bercerita, saya mencoba membayangkan menjadi Puput. Tentu kabar ini bukan kabar yang membahagiakan. Dan membaginya dengan orang lain membutuhkan kesiapan dan keberanian yang cukup. Untuk beberapa bulan saya hanya menyimpan cerita ini sendiri. Kami kembali sering berkomunikasi.

Dokter menyarankan, setelah Malika lahir Puput segera menjalani operasi pengangkatan tumor. Kalau tidak, tumor itu akan semakin membesar dan mendesak jaringan di kepala. Sampai Malika lahir, kondisi Puput relatif stabil. Tapi memang sakit kepala kerap datang. Seperti suatu pagi, saya menerima SMS dari Puput. “Aku terkena serangan sakit kepala luar biasa”.

Puput belum berani operasi. Membayangkan kepala dibedah untuk mengambil tumornya, dia belum berani. Belum lagi masa recovery pasca operasi tumor otak yang membutuhkan waktu lama. Ia tidak bisa membayangkan tidak menyusui Malika, tidak menggendongnya. Baginya, menyusui Malika adalah surga dunia.

Beberapa cara pengobatan alternatif dicoba. Dia mulai minum air rebusan daun sirsak. Tapi justru serangan hebat itu datang lagi. “Sakitnya bukan main. Rasanya mati itu pilihan yang lebih baik. Aku sampe sudah minta maaf ke mama papa, nitip Malika,” katanya. Hatiku ikut hancur.

Tapi dia tidak putus asa. Pengobatan alternatif yang disarankan teman di Pemalang, Jawa Tengah pun didatangi. Tapi rupanya hasilnya tidak memuaskan. Tumor itu tidak kunjung mengecil. Besarnya sekarang kira-kira sebesar buah apel. Seperempat kepalanya. Letaknya di belakang mata kanan.

Suatu ketika Aida, cerita kalau dia mau ke Balikpapan untuk sebuah keperluan dan akan mampir jenguk Malika. Aku langsung nelpon Aida. Melanggar janjiku dan menceritakan semuanya ke Aida. Aku nitip mata dan telinga saat Aida mengunjungi Puput. Rupanya ketika Ai ke sana, Puput menceritakan semuanya. Jadilah setelah itu aku dan Aida menyimpan cerita ini.

Kami sangat ingin menceritakan ini kepada kalian semua. Tapi lagi-lagi kami mempertimbangkan kondisi Puput. Sejak saat itu, kami selalu bertukar informasi kalau ada perkembangan atau kabar dari Puput. Aku sendiri merencakan untuk mengambil cuti dan bisa pergi ke Balikpapan.

Belum sempat aku cuti, aku sudah dipindah ke Jakarta. Sampai suatu hari, 20 Juli lalu, pagi-pagi dia mengirim SMS. “Na, aku masuk RS Restu Ibu Selasa malam kemarin. Kena serangan sakit kepala banget aku ga tahan rasanya pingin dibius aja. Tapi alhamdulillah udah berkurang. Aku dan keluarga mutusin operasi Na. Dokter bilang Cuma Allah yang tau kenapa aku masih hidup dengan tumor otak sebesar ini. Aku nyimpen bom waktu katanya 😦 Insya Allah operasi minggu depan di RS Siloam Tangerang. Doain aku ya Na. Mauku sih oke lah operasi, tapi habis lebaran. Tapi kasihan keluargaku sudah khawatir banget. Aku takut Na 😦 tapi harus semangat yah.. InsyaAllah sembuh, Amin,”

Aku cuma bisa nangis. Kalau bisa terbang ke Balikpapan saat itu rasanya aku ingin ke sana. Memastikan dia bisa melewati semua ini. Di sisi lain, ini melegakan, karena operasi di Tangerang maka aku bisa menemuinya. Selasa (27/7) lalu, Puput sampai di Jakarta untuk memulai serangkaian pemeriksaan dan pengobatannya di RS Siloam Tangerang.

Sebelum diopname, dia menginap semalam di Hotel Milenium Jakarta. Tanpa pikir panjang, kami bertemu di sana. Puput berdua dengan suaminya, Mas Dhika. Begitu melihat Puput yang kurus itu bersandar di sofa, aku tidak kuasa ingin menangis. Tapi senyumnya tetap ceria. Semangatnya masih menyala. Maka air mataku kutunda sementara.

Kami ngobrol panjang lebar. Tidak melulu membicarakan tumornya. Kami bercanda. Tertawa lepas. “Kamu ko masih bisa tertawa gini?” Puput malah ketawa. Puput kita itu tetap orang yang kuat. Seperti dulu. Sekuat dia menghadapi dua kali kekalahannya di pemilihan Kahima. Oh tidak! Itu sungguh tidak ada apa-apanya. DIA SANGAT KUAT!

Selain Allah yang Maha Segalanya, aku yakin suaminya yang setia dan buah hatinya adalah sumber kekuatannya. Bahan bakar yang membuatnya tetap bisa menjalani hidup. Menempuh jarak yang jauh untuk mengusahakan kesembuhan. Sekarang, Puput sedang menunggu hasi l pemeriksaan dan penjadwalan operasi di RS Siloam Tangerang.

Aku minta maaf karena baru bisa cerita sekarang. Semata-mata menjaga pesan Puput. Tapi sekarang sepertinya Puput sudah lebih siap menceritakan keadaannya pada orang lain. Dan yang terpenting, dia sedang membutuhkan banyak doa dari kita semua, sahabat-sahabatnya.

Maka, mari meluangkan doa-doa kita untuk kesembuhan Puput. Di tengah kesibukan, waktu dan posisi kita yang sudah berjauh-jauhan, sangat dimaklumi kalau secara fisik tidak bisa menemani Puput. Tapi doa kita bisa menerobos semua keterbatasan itu.

Aku paham benar, aku tidak bisa menebus ketidakhadiranku di hari pernikahannya, di hari ulang tahunnya, atau di hari kelahiran anaknya. Tapi semoga, aku dan kita semua, bisa menyuntikkan energi untuk Puput. Melalui doa-doa kita. Sebenarnya sungguh tidak enak jika silaturahmi ini tersambung kembali karena kabar yang kurang menggembirakan. Tapi barangkali inilah hikmahnya.Mari kita sama-sama bahu-membahu memberikan apapun yang bisa kita lakukan untuk Puput.

Peluk sayang penuh rindu,

Nana

*) Surat ini saya kirimkan untuk sahabat-sahabat Puput…. Sahabat saya….

Kini, dia sedang berjang sekuat tenaganya untuk menaklukkan tumor yang baru saja dibuang dari kepalanya. Kami tak henti-hentinya berdoa… Dan betapa Tuhan menyayangi kita semua…

dike-JAKARTA-kan

20120309-122520.jpg
Sumber foto: Jakarta City Light

J A K A R T A
Saya sering prihatin dengan status facebook atau twitter teman-teman yang tinggal di Jakarta. Berangkat kerja mereka mengeluhkan macet. Pulang kerja mereka pun mengeluhkan macet.
Kala itu saya merasa bersyukur karena tidak berada di sana. Saya begitu berbahagia bukan bagian dari kota yang bersimbah kutukan dari penghuninya. Saya pun tak bercita-cita tinggal di Ibu Kota yang katanya jauh lebih kejam dari ibu tiri Cinderella.
Sampai suatu sore, teman-teman saya memberi selamat pada saya atas kepindahan saya ke Jakarta. “Apa? Yang bener aja! Baru juga 6 bulan di Sukabumi, mana mungkin dipindah lagi,” begitu jawa saya kepada semua yang menghubungi saya. Tapi lama-kelamaan berita itu terlalu akurat jika hanya sebatas gosip. Biasanya menjelang rotasi memang didahului dengan gosip yang semerbak seperti sedap malam.
Saya beranikan diri menelepon kantor. Melalui operator saya tanya, apakah ada surat untuk saya dari Bandung (kantpr pusat kantor saya). “Ada nih, mungkin besok sampainya,” kata kang Jajang yang suaranya sudah saya kenal akrab.
“Kang tolong bacain,” kata saya cemas.
“Iya ini mah surat tugas. Katanya dipindah ke Jakarta,” kata Kang Jajang.
Jeng jeng! Persendian saya lemas.
“Iraha (kapan dalam Bahasa Sunda) mulaina?” tanya saya tanpa daya.
“Per 1 Juli,” sambung dia.
Itu berarti lusa, gumam saya. Saya memandang teman wartawan saya yang lagi sama-sama nongkrong di warnet Sukabumi.
Saya belum siap meninggalkan kenyamanan saya di Sukabumi. Liputan yang mengasyikkan, teman-teman yang menyenangkan, dan kos yang sangat nyaman.
Segera pulang ke kos, memandangi semua isinya. Saya bingung berbenah dari mana. Saya tak kunjung mengemasi barang-barang. Tidak hari ini, kata saya dalam hati.
Tapi saya tak kuasa menunda perintah atasan. Sebagai pion, diletakkan di mana saja tak bisa saya menolak. Sejak awal, yang saya dengar, haram menolak tugas. Akhirnya tanggal 1 Juli saya pun menginjakkan kaki di Jakarta untuk menyiapkan semuanya. Baru tanggal 4 Juli, saya resmi pindah ke Jakarta.
Maka, di sini lah saya. JAKARTA.
Pusat dari negara bernama Indonesia.
Tapi, apakah saya merasakan Indonesia di sini? Hemmhhh… kita lihat nanti…