Kriminal: Kejahatan, Kelucuan dan Kepiluan

Berada jauh dari kantor pusat ada plus dan minusnya. Plusnya, kita ga perlu mendengarkan redaktur teriak-teriak untuk ngasih tugas atau menanyakan hal-hal yang kurang jelas dari berita yang kita tulis. Minusnya, kami yang di daerah bertanggung jawab atas semua peristiwa. Tidak ada pembagian desk. Beda dengan di pusat, ada wartawan ekonomi, pemerintahan, politik, hukum, kriminal, olah raga, laporan khusus, pendidikan, kesehatan. Semua ada kewajibannya masing-masing. Di daerah, semua hal ya harus bisa dicover oleh wartawan di wilayah itu. Biasanya di satu wilayah ada satu atau dua orang wartawan. Itu masih lebih baik, ada media yang tiga kabupaten digarap satu orang wartawan. Jangan dibayangkan capeknya, karena membayangkan saja bisa melelahkan.

Waktu tugas di Bandung, liputan yang saya paling tidak pahami adalah liputan kriminal. Karena kriminal itu selalu identik dengan kejadian yang melibatkan polisi. Tidak hanya penjahat, bisa kecelakaan, bisa tragedi berdarah dan sebagainya. Entahlah… tapi menurut saya peristiwa kriminal tidak membuat saya tentram. Suatu kali saya pernah meliput acara konser musik yang berujung maut, 11 orang tewas terinjak-injak. Di kamar mayat RS Hasan Sadikin Bandung, jasad pemuda-pemudi itu dijejerkan di lantai. Tubuhnya kaku seperti manekuin yang dipasang di toko baju.

Puluhan wartawan memadati kamar mayat. Mengambil gambar yang diperlukan untuk visualisasinya. Beruntung saya tidak harus memotret karena ada fotografer yang menemani. Kamar mayat yang biasanya senyap itu mendadak ramai, tidak ada kengerian seperti yang dikata orang selama ini. Tapi aroma khas kamar mayat tak bisa hilang. Selalu menempel, bahkan biasanya menempel di baju yang kita kenakan.

Tapi pikiran saya tidak tenang. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi pikiran saya. “Apa anak-anak ini sudah sempat pamit ke orang tuanya?” “Seperti apa ketika maut itu datang?” “Dan perlukah semua gambar-gambar macam ini ditampilkan?” “Bagaimana orang tuanya?” dan pertanyaan-pertanyaan lain.

Walhasil meski lelah luar biasa dan waktu sudah berjam-jam lewat tengah malam, mata ini tak bisa terpejam. Padahal masih harus bangun pagi. Eeeeuuuuhhh!!

Di malam lain, saya sedang piket. Tiba-tiba terjadi kecelakaan lalu lintas yang merenggut dua nyawa. Saya pun dikirim ke kamar mayat untuk mengumpulkan data. Entah kenapa, petugas kamar mayat itu selalu menawarkan untuk melihat mayatnya. “Lihat aja ke dalam, neng,” katanya.

Awalnya saya menggeleng. Saya bisa menceritakan peristiwa itu tanpa melihat jasad korban. Teman saya yang datang bersama saya bilang, “Masuk aja, biar tahu lukanya dimana,” ujarnya. Saya bersikeras menolak. kami sempat “berdiskusi” perlu tidaknya melihat jasadnya. Atas pertimbangan ini adalah korban tabrak lari, maka sebaiknya dilihat untuk mengetahui dan memastikan ciri-ciri korban. Harapannya bisa menemukan pelaku dan barangkali saja ada saudara korban yang belum tahu.

Baiklaaaahhh!!! Saya masuk. Dan saya hanya terpaku melihat dua jasad bapak anak itu terbujur kaku. “Nggak lagi-lagi,” kata saya dalam hati.

Semalaman saya tidak bisa bisa tidur. Saya menangis, ingat bapak di rumah. Kala itu, bapak saya masih ada. Norak ya, wartawan ko penakut. Tapi begitulah keadaannya. Waktu tes masuk juga ga ada tes lihat mayat dulu.

Berada di daerah, mau tidak mau ya harus mau meliput hal-hal macam itu. Malah, berita yang seperti itu yang “laku”. Berdasarkan pengalaman, berita yang ditayangkan juga bergantung pada “selera” redaktur. Ada redaktur yang tidak menganggap penting sebuah kecelakaan lalu lintas, meskipun ada satu korban jiwa. Tapi kalau korbannya dalam jumlah besar, semua redaktur pasti sepakat semua untuk jadi head line.

Tapi ada juga redaktur yang masih suka dengan berita-berita TKP (Tempat Kejadian Perkara, begitu biasanya menyebut berita peristiwa kriminal). Misalnya, penemuan mayat terbakar yang diduga korban pembunuhan. Atau pesta miras yang menelan korban jiwa.

Pada intinya, kriminal itu masih menjadi berita penting yang harus diliput.

Di daerah cukup sering berita-berita TKP macam itu. Tak selalu berdarah-darah. Ada juga yang lucu, tapi ada juga yang memilukan.

Beberapa hari lalu ada pemilik mobil sedan yang lapor ke polisi karena mobilnya dirusak orang. Pelakunya ikut diserahkan ke polisi karena tertangkap tangan oleh warga di sekitar tempat kejadian. Tenryata setelah diinterogasi polisi diketahui pemuda yang tertangkap itu tidak waras. Pengakua demi pengakuannya justru menimbulkan tawa.

“Saya cuma menjilat dan menggigit mobil itu. Siapa tahu saja ada milik. Saya ingin punya juga, kemarin sih sudah tanya-tanya harganya. Harganya Rp 320 juta. Yah duitnya dapat dari kerja, mungkin jadi sales. saya suka dengan Vios. Kalau lihat Vios itu seperti lihat perempuan. Enak dilihat, jadi ingin ngulik,” tutur si pelaku dalam bahasa Sunda (nggak bisa nulisnya, belum lancar Bahasa Sunda :p )

Pada momen yang lain, saya dibuat pilu dengan seorang laki-laki yang baru diturunkan dari mobil polisi. Dia disangka mencuri sebuah timbangan di masjid. Timbangan besi yang berbentuk panjang seperti yang dibuat menimbang balita. Anda pernah lihat? Yah seperti itulah kira-kira.

Polisi mengajukan berbagai pertanyaan, dengan nada yang tinggi. Saya tidak tahu, mungkin begitu caranya membuat pencuri mengaku. Si lelaki yang ditanyai menunduk.

Saya menelan ludah, lidah jadi kelu. Saya menunduk juga. Saya mundur perlahan. Dari kejauhan saya lihat dia digelandang dengan telanjang dada dan tangan diborgol. Polisi memegangi tengkuknya. Ada seorang teman yang memotret dari depan.

Ah… pasti bapak itu malu. Mungkin juga menyesal. Mungkin dia mencuri karena tidak bisa bayar listrik, atau belum beli susu buat anaknya. Atau mungkin dia hanya mau pinjam, tapi tidak bilang. Mungkin ada himpitan yang memaksanya melakukan itu. Atau malah dia mengidap penyakit yang suka mengambil barang orang lain? Dia butuh pertolongan.

Tidak tega tapi juga tidak bisa membantu apa-apa. Saya memilih minggir, diam.

Saya ini emosional. Semua-semua dirasa. Kok ya bisa jadi wartawan, aneh juga ya… Tapi mungkin semua juga seperti saya, tapi semua juga diam seperti saya.

Kalau saya merasa hidup saya sungguh sesak dan tidak menyenangkan, bagaimana dengan orang-orang itu? Bagaimana dengan keluarganya? Saya harus bersyukur… Kita semua memang harus bersyukur… Setiap apa yang dilihat sepatutnya bisa diambil pelajaran. Yah, begitu saja.

Advertisements

2 thoughts on “Kriminal: Kejahatan, Kelucuan dan Kepiluan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s