Lalu Apa?

Pendiri Kompas Jacob Oetama pernah bilang di bukunya, menjadi wartawan itu menjadi jiwa-jiwa yang gelisah. Barangkali semua penulis memang demikian. Gelisah lah yang membangkitkan mual kemudian memuntahkannya. Gagasan-gagasan tidak lagi dikerangkeng di dalam kepala.

Kegelisahan pula yang menuntunku menengok kembali laman ini. Sekian lama disibukkan berbagai hal – yang seringkali tidak sebenar-benarnya urusanku – akhirya rindu juga dengan rumah kecil ini. Seperti anak kecil yang sudah lelah bermain-main ke sana kemari. Ingin sekadar duduk santai dan memikirkan kembali apa yang sedang terjadi.

Hidup dengan tenggat harian seringkali membuat kehilangan banyak hal. Dan mengutuk diri sendiri karena tidak banyak melakukan sesuatu yang benar-benar diinginkan. Tapi kadang ragu juga apakah benar demikian? Nah ini, ini yang perlu dipikirkan kembali.

Inginnya bisa membuat komitmen untuk menyisihkan waktu barang sejenak, bercengkrama dengan diri sendiri. Menakar kembali tentang ini itu juga menyusun rencana baru. Ah tapi tak perlulah ada komitmen kaku. Toh yang sudah-sudah, kalau hubungannya dengan waktu maka semua jadi tidak berlaku. Huh.

Aku hanya ingin lebih jujur. Jujur pada diri sendiri. Jujur harus dimulai dari hal-hal kecil bukan? Tentang apa yang disukai dan dibenci, tentang apa yang dimaui dan kapan harus kompromi? Semoga kejujuran itu akan menuntunku menemukan jawaban atas pertanyaan hidup terbesar abad ini: Lalu apa?

Saya Memilih

Pada sebuah diskusi di kelas yang diampu oleh Pak Anies Baswedan di Program Pascasarjana Universitas Paramadina, dia bertanya pada kami mahasiswanya. Saya sudah tidak hapal redaksional percisnya, tapi kira-kira begini: pada sebuah situasi bangsa yang rakyatnya masih lapar, korupsi dimana-mana, apakah demokrasi tetap penting?

Kami tidak langsung menjawab. Dengan ragu-ragu beberapa dari kami menjawab penting. Sebagian lagi menjawab, tidak. Pak Anies tidak segera memberikan konfirmasi benar atau salah. Dia justru membuat gambar di papan tulis. Lalu bercerita panjang.

Kesimpulan saya dari penjelasan Pak Anies, lembaga eksekutif dan legislatif itu umpama pabrik. Hasil produksinya ialah kebijakan yang mempengaruhi kehidupan seluruh bangsa. Maka apa jadinya kalau bahan-bahan yang masuk ke pabrik itu tidak berkualitas? Besar kemungkinan kebijakan yang dihasilkan pun tidak akan baik.

Demokrasi yang berciri pergantian kepemimpinan melalui Pemilu itu adalah upaya untuk menyaring agar bahan-bahan yang masuk ke pabrik adalah yang terbaik. Harapannya, produk yang dihasilkan juga terbaik.

Jadi, apakah demokrasi penting? Iya, penting.

Demokrasi tidak menjanjikan kesejahteraan, tetapi demokrasi memberikan peluang yang sama untuk semua orang. Maka mereka yang lapar, punya kesempatan yang sama untuk mencari makan. Mereka yang sakit, punya kesempatan yang sama untuk mendapatkan perawatan. Mereka yang tua, mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan perlindungan. Mereka yang mau sekolah, mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan. Jika peluang itu ada dan dimanfaatkan dengan baik, niscaya sejahtera.

Namun kesempatan yang sama itu seperti dua sisi mata pedang. Ia juga memberi kesempatan bagi mereka yang tidak setuju demokrasi untuk hadir dan berkembang. Mereka yang tidak setuju demokrasi bisa mencoba masuk dan menguasai pabrik untuk kemudian menghasilkan produk yang mereka inginkan.

Seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, sebab pemegang saham terbesar pabrik itu adalah rakyat. Rakyat yang bisa memberi ijin mereka bisa masuk atau tidak. Caranya? Gampang, gunakan hak pilih pada Pemilu. Pilihlah orang-orang baik.

Tapi memilih itu bukan perkara gampang untuk semua orang. Banyak alasan, banyak pertimbangan. Dari yang paling sederhana, sampai yang njelimet. Itu sebabnya banyak juga yang tetap tidak menggunakan hak pilihnya. Di negara demokrasi, tidak memilih bukan kejahatan yang harus diadili. Memilih adalah sebuah kesadaran pribadi.

Setelah Pemilu 2004, saya tidak pernah menggunakan hak pilih lagi. Saya terlalu malas. Malas mengurus hak suara saya, saya pun malas mencari tahu calon-calon pimpinan negeri ini. Toh hasilnya kurang lebih sama.

Pilpres 2014, saya memutuskan untuk memperjuangkan hak pilih saya. Saya bukan generasi emas bangsa ini. Saya belum pernah menjadi bagian dari perubahan bangsa ini. Reformasi 1998, saya masih SMP. Menyaksikan pergolakan dari kotak televisi. Apalagi 1965 dan 1945, hanya baca dari buku. Tapi toh, saya menikmati buah dari setiap perubahan bangsa ini.

Saya meyakini, Pemilu tahun ini berbeda. Terlalu banyak paradoks yang membuat saya pening. Orde baru yang katanya sudah tumbang, ternyata masih ada. Orang yang selama ini sulit diseret ke persidangan justru terus-terusan muncul di ruang publik. Dielu-elukan bak pahlawan. Sebagai pemegang saham atas bangsa ini, saya tidak mau kebijakan dan keputusan negara diambil oleh orang yang bermasalah.

Bagi saya, Pilpres kali ini sungguh sederhana. Pilihannya hanya dua. Tidak sulit mencari rekam jejaknya. Tapi Pilpres kali ini sungguh menguras emosi. Orang yang saya nilai bermasalah bisa sedekat itu dengan pintu Istana. Kampanye paling keji digunakan. Saya tidak bisa tinggal diam. Sering kali kegagalan itu karena orang baik hanya diam dan mendiamkan. Saya memutuskan terlibat. Saya tidak ingin kelak waktu saya habis untuk menggerutu karena menyadari negara ini jatuh ke tangan orang yang salah.

Dalam definisinya yang paling sederhana, demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Rakyat adalah saya, Anda, kita semua. Ini pesta kita. Suara kita sangat penting menentukan nasib bangsa ini setelah negara gagal membendung orang bermasalah maju ke bursa pencalonan.

Di tengah pesimisme karena sebagian kawan masih keukeuh golput, belakangan emosi saya terkuras karena begitu terharu melihat akar rumput bergerak. Perbincangan dengan sopir taksi, tukang bajaj, pedagang, anak muda, kawan bekerja, teman sekolah, saudara, dinamika di media sosial, menyadarkan saya bahwa kesadaran politik itu sudah terbangun. Harapan itu belum mati. Mereka menginginkn perubahan. Mereka menyadari Pilpres ini bisa menjadi titik balik perubahan itu. Mari sama-sama merawat harapan ini.

Inilah pesta demokrasi. Mari merayakannya bersama-sama. Mari terlibat!

What a Random Country

Menonton berita televisi tentang perseturuan jemaat gereja dengan sekelompok masyarakat. Nyaris setiap Minggu umat Kristiani di beberapa tempat di Indonesia harus ribut untuk beribadah. Lokasi gereja mereka dipersalahkan. GKI Yasmin di Bogor dan HKBP Philadelphia di Bekasi contohnya. Mereka dihalangi beribadah.

Entah kenapa ada orang yang suka ribut-ribut seperti itu. Isunya ga pernah berubah dari dulu. Pertama, pasti mempersoalkan perijinan. Lalu menyebut mengganggu. Lalu menyebut takut Kristenisasi.

Saya lalu membayangkan. Bagaimana jika suatu hari saya niat beribadah lalu dihadang, dilarang. Apa yang salah dengan beribadah?

Perijinan tempat ibadah? Ayolah, jumlah gereja ga sebanyak masjid. Yakin semua masjid punya ijin? Lalu ada yang bilang, umat Kristiani ga banyak jadi ga perlu gereja banyak-banyak. Coba hitung deh, di satu wilayah ada berapa masjid. Apa semua penuh?

Mengganggu? Well, ini ga jelas ya yang dibilang mengganggu itu seperti apa. Beribadah di tempat ibadah jelas itu tempat yang tepat. Kalau beribadah di tengah pasar atau di tengah jalan itu baru mengganggu.
Di sekitar masjid itu tidak semuanya muslim. Adzan pun bisa didengar orang lain yang beragama Kristen, Katholik, Hindu, Budha, tidak beragama sekalipun. Apakah mereka terganggu? Bisa jadi. Apa mereka protes? Wah kalau sampai protes, bisa diusir kali. Ibadah di gereja aja dilarang, apalagi protes-protes.

Takut Kristenisasi?
Paling ga paham dengan alasan ini. Kenapa agama disebut keyakinan? Ya karena yakin. Ya karena ga semudah itu orang berubah. Kalau ada yang mudah berubah, ya coba ditanyakan pada diri sendiri. Kenapa bisa mudah berubah?
Dalam Islam ada kewajiban untuk berdakwah. Mau ga disebut Islamisasi? Kristenisasi itu konotasinya selalu negatif. Kenapa tidak memandang mereka juga berdakwah? Boleh dong umat lain pun berdakwah. Soal menuruti atau tidak, ya itu urusan masing-masing. Kecurigaan-kecurigaan macam ini yang merusak. Seperti ulat yang memakan buah.

Semua dilihat dari kacamata mayoritas. Padahal mereka yang minoritas itu tidak tiba-tiba ada. Mereka lahir dan besar di tanah yang sama, Indonesia. Pendahulunya juga ikut berjuang membangun bangsa ini. Lalu sekarang mereka seperti orang yang numpang hidup. Cuma nunut. Selebihnya adalah milik mayoritas.

Saya sedih sekali. Sedih.

Suatu kali, saya pergi dengan saudara saya. Dia seorang Kristiani. Di jalan, kami menemui beberapa orang yang berdiri di tengah jalan sambil mengulurkan jaring seperti yang dipakai untuk menangkap ikan. Di pinggir jalan ada yang berbicara dengan pengeras suara. Menginformasikan bahwa mereka sedang membangun masjid dan meminta “partisipasi” pengguna jalan untuk menyumbang. Di tembok bakal masjid itu tertulis biaya yang dibutuhkan untuk membangun masjid itu lebih dari Rp 1 miliar. Wow!

Tidak jauh dari lokasi itu, tidak lebih dari 1 km, terdapat sebuah masjid yang sunyi. Tidak megah. Tapi masih berdiri kokoh. Saya berpikir, kenapa harus membuat lagi kalau yang ada saja tidak dirawat.

Lalu saudara saya itu berkata lirih, “Kalau kami yang melakukan itu pasti diprotes habis-habisan. Kami bangun dengan uang sendiri saja masih diprotes.”

Saya diam. Menelan ludah. Saya tidak tahu harus bilang apa. Kalau kamu jadi saya, apa yang akan kamu katakan?

Dia lahir dan tinggal di negara yang sama dengan saya. Membayar pajak yang sama. Tunduk pada hukum yang sama. Tapi pada saat yang sama, dia tidak merasa merdeka. Apa salah mereka?

Bertahun-tahun persoalan ini tidak pernah selesai. Jauh panggang dari api.
Kemana negara? Pemerintah? Mereka yang sebelumnya mengemis suara kami – tak peduli beragama apa – agar menjadi penguasa. Sekarang mereka hanya bisa melihat konflik demi konflik terjadi. Membiarkan hukum rimba terjadi di antara modernitas yang tidak terbendung.

Tetapi saya lebih mencemaskan mereka yang diam, tak bersuara. Tetapi sebenarnya, di dalam hatinya, senang dengan keadaan ini. Menikmati “kemenangan” ini. Buat saya, mereka sama jahatnya dengan mereka yang menghadang orang yang beribadah.

Oh Justin Bieber, kamu benar. Saya tinggal di negara yang random.

Sehari Saja Kawan

20120501-214242.jpg
Sumber: AJI untuk Peringatan Hari Buruh Internasional 2012

Satu kawan bawa tiga kawan
Masing-masing nggandeng lima kawan
Sudah berapa kita punya kawan

Satu kawan bawa tiga kawan
Masing-masing bawa lima kawan
Kalau kita satu pabrik bayangkan kawan

Kalau kita satu hati kawan
Satu tuntutan bersatu suara
Satu pabrik satu kekuatan
Kita tak mimpi kawan!

Kalau satu pabrik bersatu hati
Mogok dengan seratus poster
Tiga hari tiga malam
Kenapa tidak kawan

Kalau satu pabrik satu serikat buruh
Bersatu hati
Mogok bersama sepuluh daerah
Sehari saja kawan
Sehari saja kawan

Sehari saja kawan
Kalau kita yang berjuta-juta
Bersatu hati mogok
Maka kapas tetap terwujud kapas
Karena mesin pintal akan mati
Kapas akan tetap berwujud kapas
Tidak akan berwujud menjadi kain
Serupa pelangi pabrik akan lumpuh mati

Juga jalan-jalan
Anak-anak tak pergi sekolah
Karena tak ada bis
Langit pun akan sunyi
Karena mesin pesawat terbang tak berputar
Karena lapangan terbang lumpuh mati

Sehari saja kawan
Kalau kita mogok kerja
Dan menyanyi dalam satu barisan
Sehari saja kawan
Kapitalis pasti kelabakan!!

-Wiji Thukul-

Selamat Hari Buruh Internasional 2012!
Jurnalis juga buruh!
Jurnalis berserikat, sekarang!

Tentang Alif di Negeri 5 Menara

Bangsa kita sekarang sedang diajari kembali untuk bercita-cita. Mempunyai cita-cita yang paling indah dan mulia, lalu mengejarnya. Barangkali dengan cara itu bangsa ini bisa bangkit (lagi).

Kenapa saya bilang begitu, karena sekarang ini banyak sekali buku-buku yang temanya tentang bagaimana seseorang dari pelosok negeri mempunyai cita-cita yang nyaris mustahil, namun pada akhirnya berhasil dengan kegigihan dan doa. Diawali dengan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Gelombang karya sejenis datang tak berjeda sampai hari ini. Sebenarnya jauh sebelum Laskar Pelangi, saya sudah sering membaca novel dengan benang merah serupa. Misalnya saja “5 cm” karya Donny Dhirgantoro. Novel itu seperti motivator bagi para pemimpi. Saya membacanya saat masih kuliah, lebih dari lima atau enam tahun silam. Buku ini sampai sekarang masih bisa dijumpai di toko buku.

Tapi Laskar Pelangi menjadi berbeda karena diangkat dari kisah nyata. Artinya, yang ditulis itu bukan omong kosong. Tidak ada yang mustahil, semua bisa terwujud. Setelah tetralogi Laskar Pelangi sukses di pasaran tidak hanya bukunya tetapi juga filmnya, sekarang ada cerita sejenis yang sedang hits. Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi. Seorang mantan jurnalis jebolan pondok pesantren. Buku ini mengisahkan enam santri yang berhasil meraih impiannya menjelajah dunia.

Saya tidak membaca bukunya. Saya sudah menyerah dengan novel motivasi semacam itu. Bahkan saya berhenti membaca Laskar Pelangi hanya sampai Sang Pemimpi dan Edensor. Maryamah Karpov hanya mejeng di rak buku saya tanpa saya menyelesaikan bab pertama. Kenapa? Alasan subyektif. Saya kecewa dengan penulisnya. Saya minta maaf bagi penggemar Andrea Hirata sejagad raya ini, tapi saya memang kecewa. Saya menghadiri acara bedah bukunya di ITB beberapa tahun lalu. Membawa semangat menggebu seperti yang ia tularkan dari bukunya, dan semuanya runtuh hanya dengan satu kalimatnya. Sejak saat itu saya berkesimpulan, biarlah karya terpisah dengan pengarangnya. Ketika saya tidak sreg dengan penulisnya, lalu membuat saya berhenti membaca karyanya itu jelas tidak elok. Tapi terus terang setelah itu belum ada lagi novel motivasi yang saya baca, termasuk Negeri 5 Menara.

20120311-093908.jpg
Sumber foto: http://www.republika.co.id

Saya menonton film Negeri 5 Menara tanpa tahu cerita di buku seperti apa. Secara keseluruha ide, jelas menarik. Cerita sukses anak negeri lainnya. Kisah ini juga berasal dari kisah hidup penulisnya. Di buku dan film itu diwakili oleh sosok pemeran utama bernama Alif.

Saya tidak akan berkomentar soal sinematografi, karena saya tidak paham. Sebagai penonton, saya terhibur dengan gambar pemandangan Danau Maninjau, juga Jam Gadang khas Sumatera Barat. Lalu bergeser ke Ponorogo, Jawa Timur. Dan terakhir pemandangan di luar negeri. Entah Eropa atau Amerika ya, saya lupa. Tapi yang saya ingat Alif waktu itu digambarkan sudah menjadi wartawan di VoA (Voice of America), tapi di situ dia berbahasa Perancis. Hanya saja, di gambar di pesantren kurang dieksplor. Nyaris setting dalam film itu hanya di bawah menara (yang menaranya hanya tampak beberapa kali), ruang kelas, kamar, masjid, lapangan badminton, rumah kiai, dan ruang ekskul jurnalistik. Sudut pengambilan gambarnya juga biasa saja. Tapi tidak terlalu menggangu. Sampai di sana film garapan Affandi Abdul Rachman ini bagus.

Saya mau kasih jempol untuk akting David Chalik dan Lulu Tobing. Padang-nya terasa betul. Apalagi sudah jarang lihat akting mereka, sungguh menyegarkan.

Saya justru terganggu dengan karakter pemeran utamanya, si Alif itu. Sepanjang film, saya hanya melihat Alif tertawa riang hanya di menit-menit pertama dan menit-menit terakhir. Selebihnya dia semacam pemuda galau. Senyumnya dipaksakan, lalu bukan tipe orang yang kelihatan aktif. Dia pemalu, sering menunduk, dan tidak riang dibandingkan teman-temannya yang lain. Kemungkinan besar hal itu karena dia masih belum ikhlas betul sekolah di pesantren. Dia masih ingin sekolah di ITB. Buat saya, itu kontras dengan sinopsisnya yang bilang kalau di hari pertama sekolahnya, dia tersihir dengan mantra “Man Jadda Wajada”. Siapa yang bersungguh-sungguh, dialah yang berhasil.

Entah seperti apa bukunya. Tapi saya sih melihat kegalauan Alif tidak beralasan. Kalau ingin ke ITB, tentu dia bisa melakukannya setelah lulus dari pesantren. Sekolah di ITB kan tidak harus ber-SMA di Bandung. Pada akhirnya dia memilih menjadi jurnalis dan berhasil studi di luar negeri.

Untuk sebuah kisah dengan pemeran utama enam remaja pria, cerita film ini kurang nakal. Saya membayangkan ada adegan mereka menyelinap keluar asrama untuk main ke pasar atau melakukan misi gila ala remaja. Atau misalnya mengorupsi waktu istirahat untuk kabur karena ingin nonton tivi. Teman-teman saya yang jebolan pondok pesantren dulu soalnya ada bandelnya juga. Tapi jangan salah, mereka berhasil sekarang.

Mungkin karena memang anak-anak itu adalah anak-anak yang manis dan tidak pernah nakal. Jadi tidak pernah ada adegan mereka melanggar aturan. Kenakalan maksimalnya hanya telat mengikuti kegiatan dengan hukuman jewer telinga temannya.

Kebetulan pacar saya jebolan sekolah asrama juga. Wah kalau dengar ceritanya seru sekali. Malam-malam menyelinap ke luar untuk menangkap lele di empang untuk dibakar. Alasannya, bosan dengan makanan di asrama yang seringkali hanya parade tempe tahu bergantian mengiringi sayur. Ayam goreng hadir hanya di waktu-waktu tertentu. Apalagi daging, wah langka!

Kembali ke Alif. Saya orang yang sadar betul bahwa laki-laki boleh menangis. Sungguh tidak mengapa jika kalian wahai kaum Adam jika ingin meluapkan emosi dengan menangis. Tapi kalau sepanjang film tampak murung, lalu setiap puncak kegalauan itu menangis terisak. Sungguh itu galau akut namanya.

Saya selama ini percaya laki-laki itu bisa cepat beradaptasi selama dia bisa main bola, atau berkumpul dengan teman-temannya. Saya kira masa galau tinggal di asrama hanya sekitar satu tahun pertama. Tahun berikutnya adalah tahun-tahun kesenangan. Sahabat saya juga sekolah di sekolah berasrama. Tahun pertama bawaannya ingin pulang. Kangen rumah, keluarga, teman dan jengah dengan senior. Tapi kondisi berbalik ketika tahun kedua. Kangen rumah sih tetap, tapi kalau disuruh pulang malas. Sudah asyik betul tinggal di asrama.

Mengingat tokoh Alif ini adalah jelmaan penulisnya, yaitu Mas Ahmad Fuadi, kritik karakter ini tidak saya maksudkan mengkritik karakter Mas Fuadi. Sebab saya tidak mengenal dia secara pribadi. Saya juga tidak tahu apakah karakter semacam ini juga tertangkap dari novelnya. Atau Gaza Zubizareta yang tidak berhasil menterjemahkan karakter Alif dari novel ke film. Entahlah. Jadi ini murni kritik saya yang hanya menonton saja.

Saya percaya, kenakalan juga bisa mengajarkan kehidupan. Anak baik-baik selalu berhasil itu tidak selalu terbukti. Anak bandel jadi sukses, itu juga tidak sedikit. Saya suka karakter semacam Lupus. Bandel, kocak, tidak terlalu pandai tapi kreatif, dan sayang keluarga. Buat saya, Lupus adalah sosok yang sukses melalui dan menikmati masa remajanya.

Anda boleh tidak sepakat dengan saya tentang semua yang saya tulis. Tapi semua setuju kan dengan kata Bang Haji Rhoma Irma, masa muda adalah masa yang berapi-api.

Bu Nunun, Saya, dan Toilet

Saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman saya di toilet bersama Nunun Nurbaeti. Anda tahu Nunun kan? Istri Mantan Wakapolri Adang Daradjatun, yang sedang berpekara di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta karena dituduh menyuap Anggota DPR untuk mengegolkan Miranda Gultom sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia 2004.

20120309-121821.jpg

Bisa jadi, ini pengalaman yang tidak akan terulang. Maka dari itu, saya ingin berbagi dengan Anda semua.

Toilet di Pengadilan Tipikor, di lantai 1 Gedung Ombudsman Indonesia, hanya ada satu untuk wanita dan satu untuk pria. Letaknya berdampingan. Toilet ini digunakan untuk saksi, terdakwa, jaksa, penasihat hukum, wartawan, juga pengunjung lainnya. Saya bekum pernah berpapasan dengan hakim. Sepertinya hakim menggunakan toilet yang lain.

Karena saya perempuan, saya hanya bisa cerita kondisi toilet perempuan. Kalau yang laki-laki, saya belum pernah masuk. Kondisi toilet ini bisa dibilang kurang memadai. Hanya ada satu toilet dengan satu kloset duduk dan sebuah kran air. Tisu kadang ada, kadang juga tidak ada. Selang khusus yang biasa digunakan setelah menggunakan kloset tidak ada. Jadilah di kran air itu dipasang sebuah selang biasa. Selang itu juga digunakan untuk wudhu. Satu hal yang perlu disyukuri, keramik toilet masih bagus. Jadi kondisinya tidak terlalu memprihatinkan.

Buat saya pribadi sih sering melihat toilet yang lebih buruk dari itu. Tapi untuk ukuran gedung bertingkat di ibu kota, memang bisa dibilang tidak memadai. Saya sering mendengar pengguna toilet protes dengan kondisi toilet. Barangkali, toilet di rumahnya lebih bagus.

Rabu (7/3) siang saya berniat wudhu, mumpung sidang sedang diskors. Sampai di toilet, saya bingung dengan kondisi toilet. Pintu terbuka, pertanda tidak dipakai. Tapi di atas kloset yang terbuka itu semua bagiannya ditutup dengan tisu kering. Lantainya juga kering, seperti habis dipel lalu dikeringkan. Saya melihat dua orang sebelum saya mengantri di depan pintu, padahal toilet kosong.

“Kenapa nggak masuk?” tanya saya.
Seorang perempuan, saya tidak menanyakan namanya, sedang sibuk dengan tasnya. “Sebentar mbak, buat ibu,” katanya.
“Hah? Maksudnya? Ibu siapa?” tanya saya lagi dengan nada bingung.
“Ibu Nunun,” jawabnya.

Ternyata dia adalah salah satu rombongan pengantar Bu Nunun, entah apa kedudukan dan tugasnya. Yang jelas, dia yang menyiapkan toilet sebelum digunakan Bu Nunun.

Meski toilet sudah siap, Bu Nunun tidak juga datang. Rupanya masih mengobrol dengan kerabatnya. Kasihan dengan yang mengantri dengan muka kebelet pipis, akhirnya ibu itu mempersilakan kami menggunakan toiletnya. “Pakai dulu saja, nanti saya keringkan lagi,” katanya lagi.

Ketika saya wudhu, datanglah Bu Nunun. Melihat toilet kembali basah, tangannya langsung meraih gagang pel yang berada di dekat pintu. Saya sempat meminta maaf karena menggunakan toiletnya. Ya, meskipun itu toilet umum, saya agak tidak enak juga menggunakannya karena sudah dikeringkan untuk Bu Nunun.

“Oh nggak papa mbak, silakan saja,” katanya.

Melihat Bu Nunun sudah ancang-ancang hendak mengepel lantai toilet, perempuan yang tadi buru-buru mencegahnya. Ia ingin mengambil alih pel tadi.

“Jangan, biarin. Saya ingin kerja. Biarin terdakwa ngepel,” kata Nunun berkelakar.

Saya hanya bisa geleng-geleng. Semoga Bu Nunun tidak sedang menahan pipis. Kalau sudah kebelet, mana tahan menunggu toilet kering.

Bu Nunun saat ini tinggal di Rutan Pondok Bambu, bercampur bersama tahanan yang lain. Saya jadi membayangkan seperti apa toilet di sana. Saya belum pernah melihatnya. Tapi saya yakin lebih buruk dari toilet ini.

Pikiran jahil saya jadi terusik. Bagaimana Bu Nunun menghadapi toilet di Rutan? Menuntaskan rasa ingin tahu, saya tanya ke perempuan tadi. “Bu, kalau di tahanan Bu Nunun bagaimana?” tanya saya.

“Ya ada yang bersihin,” katanya sambil sibuk menyiapkan toilet.
“Siapa?”
“Adalah yang lain, tapi bukan saya,” katanya sudah dengan nada malas menjawab.

Nah lho?! Siapa orang itu? Masih misterius buat saya.

Bagi sosialita seperti Nunun, yang sering datang ke tempat mewah dan menyukai barang bermerk itu, pasti tidak pernah membayangkan ada toilet yang seperti itu. Apalagi di penjara, yang pastinya lebih jorok.

Saya membayangkan, pergi ke toilet adalah siksaan tersendiri baginya. Ia pasti merindukan toilet di rumahnya sendiri. Yang bersih, nyaman, wangi. Barangkali, dihukum setahun saja dirasanya terlalu berat. Bayangkan selama itu dia harus menggunakan toilet berapa kali? Sebanyak itu pula dia merasa sengsara setiap akan menggunakan toilet.

Pantas saja saat hukuman mati bagi koruptor diusulkan, banyak yang tidak setuju. Katanya terlalu berat. Menggunakan toilet jorok aja sudah sengsara, apalagi hukuman berat. Tapi apapun itu, mereka yang salah harus menerima hukuman setimpal. Apalagi jika benar terbukti korupsi. Jangan pernah berpikir bisa selamat dari lubang hukum.

Kembali soal Bu Nunun, saya cuma bisa prihatin -sebagaimana yang sering diucapkan Pak Presiden Es-Be-Ye. Seandainya nggak korupsi, mungkin nggak begini ya Bu Nunun…

Ya, begitu saja. Jangan ada yang nanya apa saya pernah punya pengalaman di toilet dengan Nazaruddin ya! Toiletnya beda!

Ternyata Saya Benci Terbang

20 jam setelah penerbangan Malang-Jakarta yang mendebarkan.

Bepergian dengan pesawat terbang di cuaca buruk belakangan, cukup membuat saya memahami satu hal. Saya benci terbang.
November 2011, penerbangan dari Makasar menuju Jakarta usai mengikuti Kongres Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia salah satu yang terburuk yang pernah terjadi. Penerbangan tertunda sampai hampir tiga jam karena hujan deras dan semua pesawat datang terlambat. Kami terbang saat hujan masih turun meskipun sudah mereda. Menembus mendung menuju ketinggian puluhan ribu kilometer. Seperti berada di dalam kotak sabun yang sedang dimainkan balita. Atau seperti dadu yang dikocok oleh ibu-ibu arisan. Tiba-tiba pusing. Lalu mual.

Teman saya, yang duduk di sebelah kanan saya, meremas celana saya. Daging paha saya ikut diremasnya. Ini bukan cerita jorok! Kalau kau lihat wajahnya, kau akan iba. Mukanya pucat pasi. Matanya terpejam erat. Mulutnya komat-komit membaca doa sesekali diselingi umpatan.

Saya terkekeh. Dalam hati, saya pun takut! Maka saya berakting tertawa. Apalagi dia laki-laki. Saya punya lelucon untuk menutupi kepanikan saya.
Entah di ketinggian berapa, beberapa saat setelah kami tenang. Setelah lampu tanda sabuk pengaman dipadamkan, lampu itu menyala kembali. Pramugari yang melayani kami tadi berbicara melalui pengeras suara. “Penumpang yang terhormat, saat ini kita sedang menghadi cuaca buruk. Untuk keselamatan, pastikan Anda tetap berada di tempat duduk dan sabuk pengamanan Anda terpasang sempurna,” katanya.
Alamaaaakkkk! Apalagi iniiiiiii…

Dan kotak sabun kami kembali berguncang keras. Kali ini seperti berada di roller coster yang sedang meluncur kencang.
“Somebody please stop this fuckin plane! Get me out of here! Now!” jeritku. Tidak, itu cuma jeritan dalam hati.
“Tuhan, tidak sekarang,” dalam hati aku berdoa.
Semua doa yang kuhapal kurapal sekenanya. Maaf tajwid nya ga beraturan ya Allah, saya panik.
“Penumpang yang terhormat, sesaat lagi kita akan mendarat di Bandara Soekarno Hatta Jakarta,” kata pramugari yang tadi lagi.
Finally…

Setelahnya, saya merasa lebih sensitif setiap kali terbang. Saya jadi paranoid. Saya memperhatikan orang di sekitar saya. Rasanya ingin menerkam orang-orang yang masih ngobrol di telepon saat sudah di pesawat. Saya perhatikan orang di samping saya apakah mereka sudah memastikan telepon selulernya. Terakhir saya ingin menonjok ibu-ibu yang menyalakan telepon selulernya tidak lama setelah pramugari mengumumkan kami segera mendarat. Kita masih di udara dan dia menyalakan selulernya. Pleaseeeee! Darimana saya tahu? Bunyi khas Nokia kalau dinyalakan itu sungguh tidak bisa berbohong!

Dan saya jadi tegang kalau melihat pramugari yang tidak ramah. Jangan-jangan dia tahu rahasia. Barangkali dia tahu ada kerusakan mesin, atau ban pesawat yang bocor, atau bahan bakar yang tidak cukup. Aaarrrggghhh!

Dan rasanya pingin nangis waktu penerbangan yang sudah tertunda hampir dua jam kembali tertunda karena tiba-tiba hujan deras. Dan benar saja, terakhir terbang ke Malang, saya kembali dikocok di dalam kotak sabun.

Saya tidak terlalu banyak bepergian. Saya belum pernah terbang lebih dari tiga jam. Dan saya tidak bisa membayangkan ketika itu terjadi. Mungkin saya harus menelan obat tidur lebih dulu.

Mungkin sudah saatnya saya merelakan belasan jam di kereta api. Tak apa, yang penting saya bisa berlari. Atau setidaknya melihat apa yang terjadi di luar. Bukan merelakan nasib saya pada pilot yang saya tidak kenal. Mengarungi angkasa yang tidak saya akrabi.

Barangkali ada yang tahu bagaimana menghilangkan kecemasan saat terbang? I really thank you if you wanna share it with me here….